Analisis Pakar Ekonomi UK Petra Terkait Anomali Harga Emas dan Ketidakpastian Ekonomi Dunia
TIMES Jatim/Ilustrasi emas batangan

Analisis Pakar Ekonomi UK Petra Terkait Anomali Harga Emas dan Ketidakpastian Ekonomi Dunia

Pakar Ekonomi UK Petra Dr Nanik Linawati menyebut lonjakan harga emas hingga Rp3,1 juta per gram sebagai sinyal resesi global dan anomali pasar.

TIMES Jatim,Senin 9 Februari 2026, 19:32 WIB
631
S
Siti Nur Faizah

SurabayaHarga emas Antam (Logam Mulia) mencatatkan tren kenaikan signifikan sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026. Bahkan, beberapa hari lalu, harga jualnya sempat menembus angka di atas Rp3.100.000 per gram. Dalam setahun terakhir, kenaikan harga emas diperkirakan mencapai 50 hingga 60 persen.

Lonjakan ini dinilai bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan cerminan kecemasan mendalam para investor terhadap ketidakpastian ekonomi global.

Meski demikian, dalam beberapa waktu terakhir harga emas cenderung mengalami koreksi. Pakar Ekonomi Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, Dr. Dra. Nanik Linawati, MM., mengungkapkan bahwa pergerakan harga emas terbagi menjadi dua fase, yakni jangka pendek dan jangka panjang.

Menurut Nanik, penyebab fenomena ini sangat kompleks. Mulai dari eskalasi konflik di berbagai kawasan, kebijakan tarif tinggi dari pemimpin dunia, hingga retorika politik Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump, turut berperan menciptakan iklim investasi yang "liar".

Tren Jangka Pendek dan Profit Taking

Di tengah reli panjang tersebut, Dr. Nanik memberikan catatan bahwa dalam jangka pendek, tren harga emas bisa mengalami sedikit penurunan.

article
Dr. Dra. Nanik Linawati, MM., saat menjelaskan fenomena harga emas yang makin fluktuatif. (FOTO: UK Petra)

“Ini wajar, karena sebagian investor mulai menjual emas mereka untuk mengambil keuntungan (profit taking), seiring dengan inflasi yang mulai terkendali dan sentimen pasar yang berangsur membaik,” ujarnya di Surabaya, Senin (9/2/2026).

Namun untuk jangka panjang, ia memprediksi harga emas cenderung tetap naik. Hal ini dipicu ketegangan politik, kondisi ekonomi global yang menurun, hingga masalah demografi global.

Anomali Pasar dan Kelangkaan Emas

Akademisi yang mengajar sejak tahun 1990 ini menyoroti adanya anomali pasar. Menurutnya, dunia sedang berada dalam fase ekonomi "tidak normal", sehingga perilaku harga emas tidak lagi mengikuti pola biasanya.

“Investasi emas ini sifatnya langka, tidak dapat dimanipulasi oleh kebijakan otoritas manapun. Berbeda dengan instrumen lain seperti saham atau kripto yang suplainya dapat diatur. Emas tidak bisa muncul secara tiba-tiba,” urai Dr. Nanik.

Emas terikat pada hukum alam dan proses eksplorasi bumi yang panjang. Penambahan fisik emas baru memerlukan waktu bertahun-tahun untuk penambangan. Kelangkaan alami inilah yang menjadikan emas sebagai tempat berlindung (safe haven) saat instrumen investasi lainnya mulai kehilangan arah.

Sinyal Merah Resesi Dunia

Dr. Nanik memperingatkan bahwa meroketnya harga emas merupakan "sinyal merah" bagi perekonomian global. Kenaikan ini tidak lagi dipicu oleh permintaan normal perhiasan, melainkan krisis kepercayaan investor yang mulai meninggalkan aset produktif seperti saham, kripto, hingga deposito demi menyelamatkan nilai harta.

“Lonjakan tidak wajar ini jadi indikator kuat bahwa dunia tengah bergerak ke ambang resesi. Selama ketegangan geopolitik bergejolak, harga emas akan terus mencari level tertinggi baru sebagai tempat bersandar para pemilik modal," imbuhnya.

Menutup analisisnya, dosen pengampu Mata Kuliah Keuangan Personal ini menyebut kondisi ekonomi dunia saat ini sebagai "benang kusut".

"Di dunia yang tidak menentu, emas memang menjadi sandaran nyata. Namun, investor harus tetap tenang agar bisa bertindak bijak tanpa tergesa-gesa. Dengan ketenangan, kita mampu melindungi nilai kekayaan di tengah badai ketidakpastian,” tutupnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Siti Nur Faizah
|
Editor:Tim Redaksi