https://jatim.times.co.id/
Berita

Idap Preeklampsia Ganggu Penglihatan, Ibu dengan Bayi di Malang Terkendala Pengobatan

Senin, 05 Januari 2026 - 18:44
Idap Preeklampsia Ganggu Penglihatan, Ibu dengan Bayi di Malang Terkendala Pengobatan Dewi Nurmanik Setyowati (32), warga Kepanjen Kabupaten Malang. yang mengidap preeklampsia dan kini mengganggu penglihatannya, di rumahnya, Senin (5/1/2026). (Foto: Amin/TIMES Indonesia)

TIMES JATIM, MALANG – Nasib memprihatinkan menimpa Dewi Nurmanik Setyowati (32), warga Jalan Welirang Nomor 52 RT 03 RW 02 Kepanjen, Kabupaten Malang. Ibu empat anak ini sempat mengalami preeklampsia berat (keracunan kehamilan) pada kehamilannya yang keempat.

Penyakit yang bersarang di tubuh Dewi ini, kini berujung pada gangguan penglihatan serius di kedua matanya. Gangguan penglihatannya tidak normal, bahkan berisiko menyebabkan kebutaan permanen.

“Saat kehamilan anak keempat, Saya mengalami preeklampsia parah. Dokter pertama menyampaikan penglihatan akan membaik. Akan tetapi setelah diperiksa dokter mata, ternyata ditemukan pembengkakan dan pembuluh darah dalam mata yang saling bersilang,” ungkap Dewi Nurmanik, seraya menunjukkan hasil foto rekam medik dari RSUD Kanjuruhan, ketika ditemui di rumahnya, Senin (5/1/2026).

Saat itu, pada usia kehamilan 32 minggu, Dewi mulai mengalami pembengkakan pada mata yang disertai pandangan kabur. Setelah diperiksa bidan, ia langsung dirujuk ke RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang.

Hasil observasi medis menyatakan, Dewi mengalami preeklampsia disertai hipertensi berat. Dokter yang menangani lalu memutuskan, harus dilakukan operasi sesar darurat demi menyelamatkan ibu dan bayi yang tengah dikandungnya.

Operasi berjalan lancar, namun kondisi penglihatan Dewi justru semakin memburuk pascapersalinan. Pemeriksaan lanjutan oleh dokter mata menemukan adanya pembengkakan retina dan pendarahan akibat pecahnya pembuluh darah di kedua mata.

Hasil foto fundus, menunjukkan adanya blind spot akibat pembengkakan retina. Pada mata kiri Dewi ditemukan pembuluh darah pecah dan saling bersilangan, menyebabkan pandangan kabur, kilatan cahaya, serta nyeri kepala hebat.

"Mengenali wajah seseorang saat siang hari saja Saya kesulitan. Kabur dan muncul kilatan begitu. Akibatnya, rasanya ada pusing jika dipaksakan," ungkap Dewi sembari menggendong buah hatinya yang masih berumur beberapa pekan.

Rumah yang ditinggali Dewi Nurmanik dan suaminya Christian, di Jalan Welirang Kepanjen hanya rumah kontrak sewa. Saat TIMES Indonesia mengunjungi rumahnya, tampak dua anak pasangan ini masih kecil tertidur di kasur tanpa dipan di ruang tamu.

Dewi menyebut, satu keluarganya kini ada empat anak. Anak pertama masih berusia 6 tahun, kemudian anak kedua 4 tahun, selanjutnya masih usia 2,5 tahun dan di bayi yang dalam gendongannya.

Saat ini Dewi harus segera menjalani terapi suntik bola mata di RS Saiful Anwar (RSSA) Malang, guna mencegah kerusakan mata yang lebih parah dan risiko kebutaan permanen.

Selain suntik mata, Dewi juga harus menjalani terapi rutin. Yakni, kontrol medis setiap minggu, konsumsi vitamin 3 kali sehari. Obat tetes mata 1 kali sehari, juga terapi pendukung dan pengobatan alternatif harus dijalani 2 kali sepekan. 

Untuk pengobatan mata Dewi, keluarga mengaku membutuhkan biaya sekitar Rp 25 juta. Rinciannya, untuk suntik mata selama 2 bulan (1 kali sebulan) Rp5.000.000 per mata. Jadi, total biaya yang dibutuhkan Rp20 juta. Pembiayaan lainnya, biaya kontrol, obat-obatan, transportasi, dan foto fundus mencapai sekitar Rp5.000.000.

"Kami awalnya menjadi peserta BPJS Kesehatan mandiri. Karena kondisi keluarga yang susah, BPJS tidak lagi aktif dan tunggakan mencapai lebih dr Rp3 juta. Kalau diaktifkan kembali belum bayar yang biaya dendanya. Kami tidak mampu," ungkap Dewi.

Saat persalinan saja, suaminya sudah mengurus surat keterangan tidak mampu dan menggunakan pembiayaan melalui bantuan Jamkesda.

Namun, keterbatasan ekonomi keluarga menjadi kendala utama bagi upaya penanganan medis Dewi.

Dewi pun kini kesulitan beraktivitas karena penglihatannya sangat terbatas dan sering mengalami pusing hebat. Akibatnya, Cristian terpaksa bekerja sebisanya, sembari mengurus istri dan keempat anaknya yang masih kecil.

“Jangankan mengurus anak, untuk beraktivitas sendiri saja istri saya sering pusing dan tidak kuat,” ungkap Christian.

Ia sendiri hanya bekerja sebagai buruh harian lepas, atau menjajakan jasa serabutan keliling. Ia kini menjadi satu-satunya penopang keluarga ini.

Saat ini mereka tinggal di rumah kontrakan sederhana. Kondisi semakin berat karena orang tua kandung Dewi juga menderita stroke.

Atas kondisi ini, keluarga Dewi Nurmanik sangat berharap uluran tangan para dermawan serta perhatian pemerintah dan instansi terkait agar pengobatan dapat segera dilakukan demi memulihkan penglihatan Dewi. (*)

Pewarta : Khoirul Amin
Editor : Imadudin Muhammad
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.