https://jatim.times.co.id/
Wisata

Bangunan Hunian Pekerja Musiman Era Kolonial di Ijen Bondowoso Masih Berdiri Kokoh

Jumat, 02 Januari 2026 - 13:41
Hunian Pekerja Musiman Era Kolonial di Ijen Bondowoso Masih Berdiri Kokoh Bangunan pesanggrahan untuk menampung pekerja musiman di Ijen yang dibangun di era kolonial Belanda (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)

TIMES JATIM, BONDOWOSO – Bangunan berdinding gedek itu masih berdiri kokoh. Meskipun beberapa bagian sudah hancur, namun struktur bangunan tidak berubah.

Landscape dan desain bagunan tersebut jauh berbeda dengan bangunan disekitarnya. Dari material dan bentuknya saja sudah bisa ditebak bahwa itu bangunan kuno. 

Lokasi bangunan sekitar 50 meter dari Kantor Kecamatan Ijen. Yakni berseberangan dengan KUA Ijen dan Dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi). 

Tampak pintu depan bangunan itu digembok. Namun tembok bagian selatan sudah jebol, sehingga siapapun bisa masuk. 

Bagian atap bangunan juga dipasang plafon, namun sudah rusak dan sebagian menggantung. Di bagian dalam ada semacam ruang tamu. Kemudian juga terdapat pintu lain yang menghubungkan ke ruang lain, dan tampak pintu itu juga terkunci. 

Bangunan itu ternyata merupakan pesanggrahan atau penginapan sementara pekerja musiman di kebun yang dibangun era kolonial Belanda.

Bangunan-pesanggrahan-untuk-menampung-pekerja-musiman-di-Ijen-B.jpg

Subkoordinator Sejarah dan Cagar Budaya Bidang Kebudayaan Disparbudpora Bondowoso, Hery Kusdaryanto mengatakan, bangunan itu diduga merupakan bangunan sementara yang digunakan untuk menampung pekerja migran atau pekerja musiman pada masa kolonial Belanda. 

“Itu berdasarkan hasil wawancara yang pernah saya lakukan dengan masyarakat sekitar,” katanya saat dikonfirmasi, Jumat (2/1/2026). 

Menurut Hery, pada masa lalu pemerintah kolonial Belanda kerap mendatangkan pekerja dari Madura untuk dipekerjakan selama musim tanam atau musim panen. Setelah pekerjaan selesai, para pekerja tersebut kembali ke daerah asalnya.

“Karena sifatnya hanya saat musim tertentu, makanya mereka disebut pekerja musiman,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pola hunian tersebut mirip dengan perumahan pekerja musiman di lingkungan pabrik gula pada masa kolonial.

Bangunan itu kata dia, umumnya dilengkapi fasilitas dasar seperti dapur dan kamar mandi, serta ruang los tanpa sekat kamar. “Biasanya yang memiliki kamar tersendiri hanya kepala pekerja,” imbuhnya.

Meski demikian, Hery mengakui tidak memiliki catatan sejarah tertulis yang pasti terkait bangunan tersebut. 

Namun berdasarkan bentuk dan model arsitekturnya lanjut dia, bangunan itu diperkirakan berasal dari akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19. 

Perkiraan tersebut juga diperkuat dengan rujukan pada bangunan serupa seperti homestay Catimor.

Dari sisi material, bangunan tersebut menggunakan bambu dengan alas plester semen. 

Menurut Hery, bahan-bahan semacam ini umumnya digunakan untuk rumah dinas sinder atau pekerja tetap pada masa itu.

Sementara itu, bangunan yang difungsikan sebagai kantor kepala administratur atau kantor utama biasanya dibangun dari tembok permanen.

“Dari perbedaan material dan fungsinya, bisa dilihat adanya stratifikasi peran dalam sistem kerja kolonial saat itu,” ujarnya. (*)

Pewarta : Moh Bahri
Editor : Ferry Agusta Satrio
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.