Jelang Muktamar ke-35 NU, Pakar Soroti Pergeseran Otoritas dan Distribusi Kekuasaan
Menjelang Muktamar ke-35 di Jombang, Unusia menggelar diskusi Kabla Muktamar untuk membedah pergeseran otoritas, pengaruh era digital, hingga dinamika internal Syuriah-Tanfidziyah di tubuh NU.
PACITAN – Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) menggelar forum diskusi Kabla Muktamar bertajuk "Siapa Pengendali NU? Susur Galur Kuasa dan Arsitektur Organisasi Nahdlatul Ulama" di Jakarta, Sabtu (18/7/2026). Forum ini membedah perubahan lanskap otoritas dan distribusi kekuasaan menjelang Muktamar ke-35 (NU) Nahdlatul Ulama yang akan digelar di Tambakberas, Jombang.
Cendekiawan Fachry Ali menilai, pusat pengaruh di dalam NU saat ini tidak lagi berada pada figur atau institusi tertentu. Menurutnya, dinamika kekuasaan tersebut kini bergerak secara lebih cair dan anonim.
"Pengendali NU kian lama kian anonim. Sulit lagi menunjuk secara pasti siapa yang sesungguhnya menentukan arah organisasi. Ada banyak pusat pengaruh yang bekerja secara bersamaan," ujar Fachry, dikutip Minggu (19/7/2026).
Fachry juga mengingatkan pentingnya NU untuk mempertahankan otonomi organisasi. Ia menekankan perlunya menjaga jarak dari intervensi negara di tengah perubahan rezim politik nasional.
Pergeseran Otoritas di Era Digital
Sementara itu, Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia, Ahmad Suaedy, melihat pergeseran otoritas keagamaan di tubuh NU ikut dipengaruhi oleh transformasi dunia digital. Fenomena ini membuat kiblat kekuasaan tidak lagi bertumpu pada hierarki tradisional.
"Dunia digital telah mengubah cara otoritas diproduksi dan didistribusikan. Otoritas tidak lagi sepenuhnya berada di tangan elite formal, tetapi juga dipengaruhi oleh ruang-ruang digital yang lebih cair dan terbuka," kata Suaedy.
Digitalisasi ini dinilai membuka ruang partisipasi yang luas bagi warga Nahdliyin. Di sisi lain, fenomena tersebut sekaligus memicu lahirnya pusat legitimasi baru di luar struktur organisasi formal.
Dinamika Hubungan Syuriah-Tanfidziyah
Dalam kesempatan yang sama, Plt Rektor Unusia, Syahrizal Syarif, menyoroti pasang surut hubungan antara Rais Aam dan Ketua Umum Tanfidziyah yang terus berubah sejak Muktamar Situbondo 1984.
"Hubungan antara Rais Aam dan Ketua Umum Tanfidziyah tidak pernah bersifat statis. Ada masa ketika otoritas syuriah sangat dominan, tetapi ada pula periode ketika tanfidziyah tampil lebih menonjol," kata Syahrizal.
Menurut Syahrizal, dinamika tersebut merupakan bagian dari penyesuaian organisasi. NU terus mencari format keseimbangan antara otoritas keagamaan dan kepemimpinan administratif sejak memutuskan kembali ke Khittah 1926.
Rangkaian Refleksi Menjelang Muktamar
Koordinator Serial Diskusi, Fariz Alnizar, menjelaskan bahwa forum yang dimoderatori Any Rufaedah ini merupakan bagian pertama dari lima rangkaian diskusi berkala. Diskusi ini dijadwalkan digelar setiap Sabtu hingga 15 Agustus 2026.
"Melalui serial diskusi tersebut, Unusia berupaya menghadirkan pembacaan yang lebih mendalam mengenai berbagai persoalan strategis yang dihadapi NU, mulai dari distribusi kuasa, kesejahteraan warga, transformasi pesantren, hingga relasi dengan negara," tutur Fariz.
Rangkaian diskusi ini diproyeksikan sebagai ruang refleksi kritis bagi masa depan NU dalam menghadapi perubahan sosial dan politik yang semakin kompleks, sehingga esensinya melampaui sekadar agenda pergantian kepemimpinan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

