Islam di Bumi Balambangan
TIMES Jatim/Petilasan Lastono di Lemahbangkulon, Singojuruh, Banyuwangi, peninggalan Syeh Abdul Jalil alias Syeh Lemah Abang Ketika berdakwah di Banyuwangi. (Foto : Dokumentasi TIMES Indonesia)

Islam di Bumi Balambangan

Sejarah Islam di Bumi Balambangan seolah adalah “barang baru” yang baru ada di abad 18.

TIMES Jatim,Rabu 25 Februari 2026, 14:40 WIB
811
S
Syamsul Arifin

TIMESINDONESIASejarah Islam di Bumi Balambangan seolah adalah “barang baru” yang baru ada di abad 18 bersamaan dengan datangnya kolonialis VOC-Belanda tahun 1760an. Padahal jauh sebelum itu, menurut ahli sejarah Blambangan dan Majapahit, M. Hidayat Aji Ramawidi, M.Pd, pada abad 15 Islam sudah hadir di tanah ini, dibawa oleh salah seorang Walisongo generasi pertama, Syeh Maulana Ishaq dan Syeh Abdul Jalil.

Syeh Maulana Ishaq adalah seorang ulama besar penyebar Islam di Nusantara pada abad ke-15 yang dikenal memiliki peran penting dalam Islamisasi wilayah Balambangan (kini Banyuwangi dan sekitarnya). Dia diyakini berasal dari kawasan Samudra Pasai atau Asia Barat dan memiliki kedalaman ilmu agama, tasawuf, serta pengobatan.

“Dalam dakwahnya, Syeh Maulana Ishaq menempuh pendekatan kultural dan kemanusiaan, termasuk mengobati penyakit rakyat dan bangsawan, sehingga ajaran Islam dapat diterima secara damai oleh masyarakat Blambangan,” kata sejarawan asal Desa Kradenan, Kecamatan Purwoharjo ini, Rabu (25/2/2026).

Menurut pemuda kelahiran Banyuwangi, 17 Oktober 1989 tersebut, salah satu peran paling berpengaruh dari Syeh Maulana Ishaq adalah sebagai ayah dari Sunan Giri, salah satu anggota Wali Songo yang kelak menjadi tokoh sentral dakwah Islam di tanah Jawa. Hubungan genealogis dan spiritual ini menempatkan Syeh Maulana Ishaq sebagai mata rantai penting dalam sejarah Islam Jawa.

article
Petilasan Lastono di Lemahbangkulon, Singojuruh, Banyuwangi, peninggalan Syeh Abdul Jalil alias Syeh Lemah Abang Ketika berdakwah di Banyuwangi. (Foto : Dokumentasi TIMES Indonesia)

Warisannya tidak hanya berupa keturunan, tetapi juga metode dakwah yang berakar pada kebijaksanaan lokal, toleransi, dan keteladanan moral, yang terus dikenang dalam tradisi sejarah dan spiritual masyarakat Nusantara.

Dalam catatan Sejarah, seolah dakwah Syeh Maulana Ishaq dan Sunan Giri kemudian terputus begitu saja pada abad 15 itu, hingga sejarah Islam di Bumi Balambangan nyaris terputus 3 abad lamanya. Konon, Islamisasi baru dilanjutkan kemudian oleh kebijakan VOC-Belanda yang menunjuk Bupati Muslim di Balambangan pada abad 18, guna memutus akar Balambangan dari Bali yang selalu membantu Balambangan melawan kompeni.

Aji Ramawidi, sapaan akrab M. Hidayat Aji Ramawidi, M.Pd, dalam Babad Raja Balambangan, mengungkap isi dari masa kekosongan dakwah selama 3 abad (antara tahun 1400-1700 masehi). Setidaknya ada beberapa landasan pemikiran yang dapat membuktikan bahwa Balambangan yang konon dianggap sebagai Kerajaan Bercorak Hindu Terakhir di tanah Jawa ini ternyata bukan berarti sama sekali tidak mengenal islam, atau bahkan konon baru mengenal Islam dari kebijakan VOC-Belanda tahun 1770 an.

“Tidak, sama sekali tidak. Balambangan sudah jauh-jauh hari mengenal Islam, selain dibuktikan dengan adanya dakwah Islam dari Syeh Mulana Ishaq, ada pula kisah Syeh Abdul Jalil alias Syeh Lemah Abang yang oleh almarhum KH. Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo disebutkan pernah berdakwah sampai ke Banyuwangi dengan adanya bukti petilasan Lastono di Lemahbangkulon, Singojuruh,” bebernya.

Disitu disebutkan, masih Aji Ramawidi, bahwa di tempat-tempat yang pernah menerima dakwah dari sang Syeh Lamah Abang maka akan dibangun sebuah desa yang juga disebut desa Lemahbang. Sebaran desa dengan nama ini ada di seantero Jawa dari Banten hingga Banyuwangi.

Sepertinya dakwah Syeh Abdul Jalil tidak lama di Banyuwangi. Setelah mempercayakan kelanjutan dakwah di daerah ini kepada muridnya, Ki Gede Banyuwangi, Ki Balak dan Ki Tembelang, kemudian Syeh Lemah Abang meninggalkan Balambangan dan menuju ke Bali.

Nama-nama murid Syeh Lemah Abang itu tertulis dalam Babad Jaka Tingkir. Sementara kedatangannya ke Bali tertulis dalam naskah-naskah Bali seperti Babad Dalem.

Sepeninggal Syeh Lemah Abang, giliran dakwah lainnya yang dilakukan oleh cucu Sunan Giri yakni Sunan Giri Prapen. Tidak ada bukti tertulis mengenai ini namun bukti arkeologis berupa temuan batu nisan bercorak Giri Kadhaton di desa Gombolirang, Kecamatan Kabat, di area Kotaraja Macanputih.

“Jejak lainnya adalah adanya hubungan antara Giri Kadhaton dan Gresik pada masa Sunan Prapen dengan Bali dan Lombok. Dalam Babad Lombok nama Giri dan Sunan Giri selalu disebut-sebut sebagai pembawa islam ke sana,” ungkap Aji Ramawidi.

“Perjalanan itu tidak mungkin terjadi tampa melintasi dermaga-dermaga di Balambangan sebagaimana H.J. de Graaf dan Pigeaud menuliskan demikian dalam buku mereka Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa halaman 173-175,” imbuhnya.

Selain itu, keluarga Giri Kadhaton juga disebutkan dalam Serat Centini pernah berkunjung ke tanah leluhurnya, yakni Balambangan. Saat itu Niken Rancangkapti dan abdinya yang bernama Buras mengunjungi kerabat jauh mereka yang bernama Menak Luhung di Candi Selo Cendani di Balambangan.

Semua bukti-bukti yang dipaparkan oleh pendiri komunitas sejarah Balambangan Royal Volunteer (BRAVO) ini menunjukkan bahwa Islam bukan hal yang baru hadir di Balambangan pada masa kolonialisasi oleh VOC-Belanda. Alias, dakwah Islam tidak pernah terputus sepeninggal Syeh Maulana Ishaq. Melainkan terus berlanjut dari masa ke masa.

Dakwah itulah yang menyebabkan Islam kita kenal saat ini menjadi agama yang mayoritas dianut oleh masyarakat di seantero Banyuwangi. Hingga akhirnya mengantarkan kita ikut merayakan bulan Ramadan tahun 2026 ini.

“Saya Aji Ramawidi dan redaksi Times Indonesia Biro Banyuwangi mengucapkan selamat menunaikan Ibadah Puasa Ramadan 1447 H,” kata Aji Ramawidi. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Syamsul Arifin
|
Editor:Ferry Agusta Satrio

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Timur, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.