DPRD Gresik Tanggapi Polemik Menu MBG saat Ramadan
Pelaksanaan MBG selama Ramadan di Gresik menuai keluhan dari sejumlah orang tua siswa. Mereka menilai menu yang diberikan kurang layak, baik dari sisi ketahanan makanan maupun kandungan gizinya.
GRESIK – Polemik pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan di Kabupaten Gresik, mendapat sorotan publik. Menanggapi hal tersebut, kalangan DPRD Gresik angkat bicara.
Wakil Ketua DPRD Gresik, Ahmad Nurhamim, menegaskan bahwa meski program MBG merupakan program nasional, meski begitu pemerintah daerah tetap memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan pelaksanaannya berjalan baik.
“MBG ini program nasional, tapi penerima manfaatnya adalah masyarakat kami. Kami punya kewajiban memastikan program ini sukses dan tidak membahayakan, jangan sampai ada yang sampai keracunan, maka mitigasi harus benar benar dilakukan," ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Pria yang akrab disapa Anha itu menjelaskan, DPRD tetap menjalankan fungsi pengawasan, meskipun tidak secara teknis terlibat dalam operasional program di lapangan.
“Walaupun pengawasannya tidak aktif dalam arti teknis, kami setiap saat hadir. Pengawasan kami sifatnya pasif, tapi tetap memantau,” tegasnya.
Dia juga menyinggung peran satuan tugas (satgas) di daerah yang menurutnya lebih difokuskan untuk mempercepat pelaksanaan pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), bukan pada aspek teknis distribusi menu.
Lebih lanjut, Anha berharap pemerintah pusat dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program itu. “Program ini harus tetap mengedepankan standar gizi yang tepat,” katanya.
Menu Dikeluhkan Orang Tua
Sebagai informasi, pelaksanaan MBG selama Ramadan di Gresik menuai keluhan dari sejumlah orang tua siswa. Mereka menilai menu yang diberikan kurang layak, baik dari sisi ketahanan makanan maupun kandungan gizinya.
Di Kecamatan Ujungpangkah, salah satu SPPG membagikan paket MBG berupa makanan kering untuk jatah tiga hari, yakni 23–25 Februari 2026. Salah satu orang tua siswa berinisial AI mengaku menerima dua roti, tiga telur matang, satu bungkus kacang berisi tujuh butir, satu susu UHT, serta buah jeruk dan apel.
“Ini paket diambil di sekolah, hanya dapat ini,” ujarnya.
Dia mempertanyakan kecukupan gizi dari paket tersebut jika harus dikonsumsi selama tiga hari. Selain itu, ia mengeluhkan kondisi telur yang dinilai kurang matang dan tidak layak konsumsi.
“Apalagi telurnya itu kurang matang, jadi agak basi ketika dimakan, kondisinya juga pecah,” terangnya.
Keluhan serupa muncul di Kecamatan Driyorejo. Di wilayah ini, menu MBG dibagikan dalam kondisi matang menyerupai takjil, seperti kolak ketan, lumpia, nugget, serta buah jeruk yang dikemas dalam mika plastik tipis.
Sejumlah orang tua mengaku khawatir makanan tersebut tidak dapat bertahan hingga waktu berbuka puasa. Bahkan, ada yang terpaksa membuang sebagian menu karena dikhawatirkan basi.
“Yang bisa disimpan dalam lemari es hanya buah jeruk. Sisanya saya buang,” kata AS, salah satu orang tua siswa di Driyorejo. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



