Kasus Leptospirosis di Pacitan Tembus 157 Orang, Kecamatan Tulakan Mendominasi
Jumlah tersebut mengalami tren kenaikan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat sebanyak 147 kasus.
PACITAN – Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan (Dinkes Pacitan) mencatat total kumulatif kasus penyakit leptospirosis telah mencapai 157 kasus hingga awal Juli 2026.
Jumlah tersebut mengalami tren kenaikan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat sebanyak 147 kasus.
Dari pemetaan sebaran infeksi bakteri yang ditularkan lewat urine tikus ini, wilayah Kecamatan Tulakan dilaporkan menjadi penyumbang kasus mendominasi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pacitan, drg Nur Farida, membenarkan adanya lonjakan grafik penularan tersebut, dengan Kecamatan Tulakan di posisi teratas meski rincian angka per wilayah tidak dipaparkan secara mendetail.
"Paling banyak Kecamatan Tulakan. Penyakit leptospira dipengaruhi berbagai faktor antara lain lingkungan yang terkontaminasi Leptospira, maraknya habitat tikus di tempat pemukiman, serta daerah persawahan yang tergenang dan tercemar urine tikus yang mengandung kuman Leptospira," kata Farida saat dikonfirmasi, Kamis (9/7/2026).
Farida menjelaskan, bakteri jenis Leptospira ini pada dasarnya hidup di dalam organ ginjal berbagai jenis hewan. Bakteri tersebut kemudian keluar bersama urine dan mencemari lingkungan luar.
Semua Jenis Tikus Membawa Bakteri
Dinkes Pacitan menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh hanya mewaspadai satu jenis hewan pengerat saja. Merujuk pada sejumlah penelitian laboratorium, hampir seluruh varian tikus memiliki potensi yang sama sebagai reservoir atau pembawa bakteri.
"Tikus yang dapat menyebarkan bakteri penyebab leptospirosis bukan hanya satu jenis. Bakteri tersebut adalah Leptospira, yang hidup di ginjal hewan dan dikeluarkan melalui urine," jelas Farida.
Ia menambahkan, secara fisik, tikus yang membawa bakteri mematikan ini sama sekali tidak bisa dibedakan dengan tikus biasa yang sehat.
"Sedangkan dari jenis-jenis tikus, baik tikus got, tikus sawah maupun tikus rumah, di beberapa penelitian menghasilkan persentase bakteri Leptospira yang berbeda-beda pada ginjalnya. Untuk itu diharapkan tetap waspada," ujarnya.
Saat dikonfirmasi mengenai status tikus sawah yang kerap dituding sebagai pemicu utama, Farida meluruskan bahwa jenis tersebut memang tetap menjadi salah satu vektor berbahaya.
"Di sebagian tekus sawah masih ditemukan bakteri Leptospira di ginjalnya," tegasnya.
Data lawas Dinkes Pacitan pada penelitian tahun 2015 saat kegiatan gropyok tikus bahkan menunjukkan angka yang masif, di mana sekitar 70 persen tikus yang diperiksa kala itu terbukti positif membawa bakteri leptospira.
Alur Penularan dan Kelompok Rentan
Mekanisme penularan leptospirosis ke tubuh manusia dapat terjadi melalui dua jalur.
Pertama, kontak langsung melalui sentuhan kulit dengan darah, urine, atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi.
Kedua, kontak tidak langsung melalui media genangan air, luapan sungai, danau, selokan, hingga lumpur yang sebelumnya telah tercemar urine hewan pembawa kuman.
Dinkes memetakan kelompok masyarakat yang paling berisiko tinggi terpapar adalah mereka yang intens beraktivitas di area basah, seperti petani, pekerja pembersih selokan, warga di kawasan berlumpur, hingga masyarakat di lingkungan padat kumuh.
“Diharapkan memakai alat pelindung diri (APD),” imbau Farida kepada kelompok rentan tersebut.
Secara klinis, seseorang yang terjangkit leptospirosis umumnya akan bergejala berupa demam mendadak tinggi, sakit kepala, nyeri otot hebat terutama di bagian betis, mata memerah, muntah, diare, nyeri perut, batuk, hingga fase kronis berupa kulit dan bola mata yang menguning.
Guna menekan laju penularan yang terus bertambah, Dinkes Pacitan mendesak masyarakat memperketat implementasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Langkah taktis mandiri yang disarankan meliputi pembersihan area rumah, menutup akses masuk tikus, mengamankan makanan dari kontaminasi, penggunaan sepatu bot saat bekerja di lahan basah, hingga pemasangan perangkap untuk mengontrol populasi rodensia di pemukiman. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

