Ngabuburopes, Cara Komunitas Malang High Ropes Isi Ramadan dengan Latihan
Kegiatan ini membuktikan bahwa ngabuburit bisa diisi dengan aktivitas yang produktif, edukatif, dan penuh semangat kebersamaan.
TIMESINDONESIA – Suasana menunggu waktu berbuka puasa Ramadan biasanya diisi dengan berburu takjil atau bersantai bersama keluarga. Namun, hal berbeda terlihat dalam kegiatan “Ngabuburopes” yang digelar komunitas Malang High Ropes.
Di sela-sela ibadah puasa, para peserta justru sibuk memasang tali, menguji kekuatan simpul, hingga melakukan simulasi pertolongan korban di ketinggian. Kegiatan ini menjadi alternatif ngabuburit yang produktif sekaligus menantang adrenalin.
Koordinator komunitas, Bagas, menjelaskan bahwa Malang High Ropes terbentuk dari sesama pecinta kegiatan tali dan aktivitas ketinggian.
Berangkat dari kesamaan minat tersebut, mereka kemudian sepakat membentuk wadah bersama yang kini aktif sejak sekitar tahun 2018, sebelum masa pandemi Covid-19.

Komunitas ini berisi anggota dari berbagai latar belakang, mulai dari tim SAR, pekerja ketinggian, relawan, hingga organisasi pecinta alam. Bahkan masyarakat umum yang belum memiliki pengalaman pun tetap diterima untuk belajar dari dasar.
“Untuk warga sipil biasa akan diberi ilmu dari yang paling dasar, mulai dari tali-menali, pengenalan alat, dan lain sebagainya,” jelas Bagas.
Sementara itu, Bagas sendiri telah berkecimpung dalam kegiatan ketinggian sejak 2013, berawal dari keterlibatannya di tim SAR. Pengalaman tersebut menjadi bekal dalam mengembangkan latihan bersama komunitas.
Konsep “Ngabuburopes” sendiri muncul pada 2023. Ide itu lahir karena banyak anggota yang merasa tidak memiliki aktivitas selama bulan Ramadan.
“Awalnya teman-teman kalau bulan puasa tidak ada kegiatan, jadi kita cari kesibukan dan latihan bareng. Dari situ muncul istilah Ngabuburopes, dari kata ngabuburit lalu belakangnya diganti ropes,” ujarnya.
Kegiatan ini telah berjalan selama kurang lebih tiga tahun. Dalam pelaksanaannya, komunitas tidak menetapkan target jumlah peserta. Siapa pun boleh datang selama membawa perlengkapan pribadi serta takjil masing-masing.
“Intinya kita bukber tapi sambil latihan, yang penting have fun saja,” tambahnya.
Dalam observasi di lapangan, peserta tampak melakukan berbagai rangkaian latihan, mulai dari teknik ascending–descending (naik-turun menggunakan tali), simulasi pertolongan korban dengan sistem kerekan, hingga diskusi materi mengenai simpul yang mampu menopang beban berat.
Mereka juga membahas praktik sesuai standar operasional prosedur (SOP) penyelamatan seperti yang diterapkan Basarnas, sembari saling bertukar pengalaman lapangan.
Bagi Nadya, salah satu peserta yang mulai terjun di dunia high ropes sejak akhir 2021, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang efektif.
“Yang paling seru ketika bisa upgrade ilmu. Tadi ada satu masalah yang kita bahas, jadi lebih berkembang lagi. Karena situasi dan kondisi lapangan itu tidak pernah bisa ditebak,” ungkapnya.
Ia berharap ke depan para anggota semakin serius meningkatkan kemampuan dan memiliki rasa ingin tahu yang lebih besar. “Kalau hanya di situ-situ saja kan tidak berkembang. Jadi ayo grow up bareng,” katanya.
Ngabuburopes bukan sekadar kegiatan menunggu waktu berbuka. Lebih dari itu, agenda ini menjadi ruang berbagi ilmu, memperluas relasi, serta mengasah kemampuan teknis di bidang ketinggian dan tali-menali.
Bagas berharap komunitasnya dapat semakin sering berkegiatan agar pengalaman dan wawasan anggota terus bertambah. Di tengah suasana Ramadan, Ngabuburopes membuktikan bahwa ngabuburit pun bisa diisi dengan aktivitas yang produktif, edukatif, dan penuh semangat kebersamaan. (*)
Pewarta: Firyanka Mirna Wahita
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




