Kantongi 4 Syarat Ini, Gus Qoyyum Beberkan Kriteria Ideal Rais Aam PBNU
Menurut Gus Qoyyum, seorang ulama besar, terlebih calon Rais Aam PBNU wajib hukumnya menguasai urusan dunia secara jernih.
PACITAN – KH Abdul Qoyyum Mansur, atau yang akrab disapa Gus Qoyyum, melontarkan kritik keras terhadap fenomena ulama yang kerap merespons persoalan duniawi namun tidak memahami esensi masalah yang sedang dibicarakan.
Akibat ketidakpahaman tersebut, hukum fikih yang disampaikan ke publik sering kali meleset dan tidak tepat sasaran.
Hal itu disampaikan Gus Qoyyum saat membeberkan empat kriteria mutlak yang harus dimiliki oleh seorang ulama agar layak menduduki posisi tertinggi sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Empat kriteria ideal tersebut meliputi aspek ilmu, bashirah, ma'rifat, dan fiqih yang seluruhnya merujuk pada ayat-ayat Al-Quran.
"Kadang-kadang yang repot itu, ulama merespons persoalan duniawi, tetapi ulama ini tidak paham apa yang ia respons. Akhirnya, dia menyampaikan fikih tidak persis, tidak sesuai dengan apa yang dia respons," tutur Gus Qoyyum dalam ceramahnya, ditulis Senin (20/7/2026).
Menurut Gus Qoyyum, seorang ulama besar, terlebih calon Rais Aam PBNU wajib hukumnya menguasai urusan dunia secara jernih.
Hal ini penting agar hukum agama yang dilahirkan bisa menjadi solusi konkret atas dinamika kehidupan kontemporer, tanpa sedikit pun melupakan orientasi akhirat.
Kewajiban memahami realitas dunia ini, lanjutnya, termaktub dalam QS. Ar-Rum ayat 7.
Merujuk kitab Yas'alūnaka fī ad-Dīn wa al-Ḥayāh karya Dr. Ahmad asy-Syarbashi, Gus Qoyyum menegaskan bahwa agama diturunkan untuk menjawab tantangan zaman.
Selain faktor ilmu, kriteria kedua yang tidak kalah krusial adalah Bashirah (kombinasi antara ilmu dan ma'rifat). Karakter inilah yang menempel pada tokoh-tokoh besar pendiri NU terdahulu.
Gus Qoyyum mencontohkan nama-nama besar seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, KH Jazuli, hingga KH Khalil Bangkalan sebagai representasi ulama yang memiliki bashirah tingkat tinggi sesuai surah Yūsuf ayat 108.
Kriteria ketiga adalah Ma'rifat, yang dalam konteks ini diartikan sebagai ketajaman intuisi untuk membaca hal-hal yang masih samar atau tersembunyi (QS. Muḥammad: 30).
Kemampuan ma'rifat membuat seorang pemimpin tertinggi NU tidak akan mudah terkecoh atau terpesona hanya oleh keluasan ilmu lahiriah seseorang, melainkan mampu membaca karakter manusia dan situasi dengan jernih.
Terakhir, Gus Qoyyum menekankan pentingnya sifat Fiqih, yaitu keahlian melihat dan membedah suatu persoalan secara detail dan terperinci sebelum menetapkan fatwa hukum (QS. Al-An‘ām: 98).
Gus Qoyyum meyakini, jika PBNU dipimpin oleh sosok ulama yang mengawinkan keempat kriteria di atas, roda organisasi Nahdlatul Ulama akan kembali pada jalur khittah kelahirannya.
"Kalau ulama di Nahdlatul Ulama menemukan orang yang berkriteria ilmu, berkriteria bashirah, berkriteria ma'rifat, dan berkriteria faqih, insya Allah akan membawa Nahdlatul Ulama ini pada zaman didirikan oleh para muassis," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

