Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji Yogyakarta, KH Miftah Maulana Habiburrahman bersama KH Imam Jazuli. (Foto: Dok.Pribadi)

Bursa Ketum PBNU Menghangat, Kiai Miftah Dukung KH Imam Jazuli di Muktamar ke-35 NU

Jelang Muktamar ke-35 NU di Jombang, Kiai Miftah secara terbuka menyebut Pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli, sebagai figur paling layak memimpin PBNU di abad kedua.

TIMES Jatim,Senin 20 Juli 2026, 16:05 WIB
688
L
Lely Yuana

SURABAYABursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 NU kian menghangat. Forum tertinggi warga Nahdliyin ini dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Di tengah munculnya sejumlah nama, Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji Yogyakarta, KH Miftah Maulana Habiburrahman atau Kiai Miftah, secara terbuka memberikan pandangannya. Ia menilai KH Imam Jazuli sebagai figur yang paling memenuhi kebutuhan kepemimpinan NU di abad kedua.

Menurut Kiai Miftah, tantangan yang dihadapi NU saat ini jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya. Organisasi Islam terbesar di Indonesia itu dituntut tidak hanya menjaga tradisi pesantren, tetapi juga mampu menjawab tantangan globalisasi, transformasi digital, penguatan ekonomi umat, hingga diplomasi internasional.

“NU hari ini adalah organisasi besar yang sedang berada di persimpangan peradaban. Dibutuhkan nakhoda yang memiliki akar kuat pada tradisi pesantren sekaligus mampu membawa NU berperan di tingkat global,” ungkap Kiai Miftah, Senin (20/7/2026).

Dari sejumlah nama yang beredar, Kiai Miftah menilai KH Imam Jazuli memiliki kombinasi kapasitas yang paling lengkap. Selain menjadi pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon, kiai yang akrab disapa Kiai Imjaz ini juga memiliki latar belakang pendidikan internasional di bidang filsafat, politik, pertahanan, dan strategi, serta berpengalaman sebagai entrepreneur.

“Di titik inilah, figur seperti Kiai Imjaz bukan lagi sekadar alternatif. Beliau adalah kebutuhan mutlak. Jika NU ingin berlari mengejar zaman, lokomotifnya haruslah orang yang selesai dengan dirinya sendiri dan punya isi kepala yang melompat jauh ke depan,” urainya.

6 Alasan KH Imam Jazuli Layak Memimpin PBNU

Kiai Miftah kemudian membeberkan enam alasan utama mengapa KH Imam Jazuli dinilai sangat layak memimpin PBNU ke depan:

1. Transformasi Pendidikan Pesantren

Kiai Imjaz dinilai tetap berakar kuat pada tradisi pesantren sekaligus membawa gagasan transformasi pendidikan. Kiai Miftah menyebutnya sebagai arsitek pesantren transformatif. Melalui gerakan nasional yang menghimpun sekitar 5.000 pengasuh pesantren, Kiai Imjaz mendorong lahirnya pesantren yang adaptif terhadap sains, teknologi, dan kebutuhan SDM di era digital. Program ini dibiayai secara mandiri melalui Imam Jazuli Foundation (IJF).

2. Kemampuan Merangkul Internal NU

Kiai Imjaz dinilai memiliki kemampuan merangkul berbagai kalangan di internal NU. Menurut Kiai Miftah, karakter pemersatu itu penting agar energi organisasi tidak lagi tersita oleh konflik internal, melainkan difokuskan untuk pelayanan kepada umat.

3. Kemandirian Ekonomi

Kemandirian ekonomi menjadi nilai lebih yang dimiliki Kiai Imjaz. Pemimpin yang tidak bergantung pada kepentingan politik maupun donor dianggap akan lebih leluasa menjalankan khidmah organisasi. Kiai Miftah menjulukinya sebagai sosok "kiai pengusaha dan pengusaha yang kiai".

4. Berpikir Progresif dan Visioner

Kiai Imjaz dinilai memiliki cara berpikir progresif dan berorientasi pada masa depan. Kiai Miftah menyebut NU membutuhkan pemimpin yang tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga menyiapkan organisasi menghadapi tantangan puluhan tahun ke depan.

5. Jejaring Global yang Kuat

Jejaring global yang dimiliki Kiai Imjaz, terutama di bidang pendidikan, dinilai menjadi modal penting untuk memperluas akses kader-kader NU ke tingkat dunia. Hal ini termasuk membuka peluang beasiswa dan kerja sama strategis di kancah internasional.

6. Rekam Jejak Manajerial Terbukti

Kemampuan manajerial Kiai Imjaz disebut telah terbukti melalui pengembangan Pondok Pesantren BIMA. Dalam waktu relatif singkat, pesantren tersebut berkembang menjadi lembaga pendidikan berskala besar dengan ribuan santri serta alumni yang tersebar di berbagai negara.

“Jika keenam kriteria tersebut dijadikan alat ukur, maka KH Imam Jazuli menjadi satu figur utama yang paling layak diperhitungkan. Beliau memiliki akar pesantren yang kuat, pengalaman internasional, serta rekam jejak membangun lembaga pendidikan yang mandiri dan berkembang,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kiai Miftah memaparkan bahwa KH Imam Jazuli merupakan alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri sebelum melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, serta memperdalam kajian politik, pertahanan, dan strategi di Malaysia.

“Beliau memahami tradisi pesantren sekaligus memiliki wawasan global. Kombinasi seperti ini menjadi kebutuhan penting bagi NU yang sedang memasuki abad kedua,” papar Kiai Miftah.

Menuju Kepemimpinan Visioner Abad Kedua NU

Menjelang Muktamar ke-35, Kiai Miftah menegaskan bahwa NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga warisan para muassis (pendiri) sekaligus melakukan transformasi organisasi agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman.

“NU membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga tradisi dan nilai Aswaja sekaligus menghadirkan inovasi. Sosok yang memahami pesantren, memiliki kemandirian, mampu mengelola organisasi secara profesional, serta memiliki jejaring nasional dan internasional yang kuat,” katanya.

Ia menilai, abad kedua NU menjadi momentum penting untuk menentukan arah organisasi ke depan. Menurutnya, NU tidak boleh terlena terhadap romantika sejarah dan membutuhkan terobosan konkret untuk menjawab tantangan zaman.

“Abad kedua NU telah tiba. Pilihannya hanya dua: menjadi raksasa tua yang lamban dan hanya bangga pada romantika sejarah, atau menjelma menjadi kekuatan peradaban modern yang lincah, mandiri, dan memimpin dunia. Saya meyakini, dengan modal spiritualitas yang kuat dan transformasi manajemen yang tepat, NU akan memilih jalan yang kedua,” tuturnya.

Kiai Miftah menegaskan, pemimpin masa depan harus mampu menjadikan NU tidak hanya besar secara kuantitas, tetapi juga berdampak luas dalam kualitas dan kontribusinya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

"Mari kita bersatu mendorong Kiai Imjaz memimpin PBNU ke depan,” pungkas Pengasuh Ponpes Ora Aji ini. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Lely Yuana
|
Editor:Deasy Mayasari

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Timur, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.