Kepala Bidang Ketenagakerjaan Disdagnaker Pacitan, Supriyono, saat dikonfirmasi, Rabu (29/7/2026). (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

Warga Dua Kecamatan di Pacitan Dominasi Jadi Pekerja Migran

Secara sebaran wilayah di internal Kabupaten Pacitan, domisili para PMI ini mayoritas berasal dari Kecamatan Pacitan Kota dan Kecamatan Tegalombo.  Sisanya tersebar dari beberapa kantong kecamatan lain.

TIMES Jatim,Rabu 29 Juli 2026, 17:22 WIB
210
Y
Yusuf Arifai

PACITANDinas Perdagangan dan Tenaga Kerja Kabupaten Pacitan (Disdagnaker Pacitan) mencatat, dari total 135 Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berangkat resmi, daerah asal terbanyak disumbang dari wilayah Kecamatan Pacitan Kota dan Kecamatan Tegalombo.

Tak hanya itu, lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) juga mendominasi deretan warga Kabupaten Pacitan yang memutuskan mengadu nasib ke luar negeri sepanjang semester pertama 2026. 

Profil latar belakang pendidikan para pahlawan devisa ini tergolong beragam. 

Dari total 135 PMI yang terdata per Juli 2026, lulusan SMA menempati porsi terbanyak yaitu 52 orang. 

Disusul lulusan SMP sebanyak 45 orang, SD 17 orang, dan SMK 14 orang. Uniknya, terdapat 7 orang berijazah Sarjana (S1) yang ikut berburu lapangan kerja ke mancanegara.

Secara sebaran wilayah di internal Kabupaten Pacitan, domisili para PMI ini mayoritas berasal dari Kecamatan Pacitan Kota dan Kecamatan Tegalombo. 

Sisanya tersebar dari beberapa kantong kecamatan lain seperti Bandar, Ngadirojo, Tulakan, hingga Nawangan.

"Negara tujuan paling dominan masih Taiwan dan Malaysia, disusul Hong Kong," kata Kepala Bidang Ketenagakerjaan Disdagnaker Pacitan, Supriyono, saat dikonfirmasi, Rabu (29/7/2026).

Berdasarkan rincian destinasi, Taiwan memimpin di urutan teratas dengan menggaet 54 pekerja, disusul ketat Malaysia sebanyak 52 orang, dan Hong Kong 19 orang. 

Sisa pekerja lainnya tersebar ke Turki (5 orang), Brunei Darussalam (2 orang), serta negara lain seperti Belanda, Singapura, hingga Korea Selatan.

Tahun ini, peta pilihan lapangan kerja juga bergeser. Pekerja asal Kota 1001 Goa ini lebih banyak mengisi peluang di sektor formal ketimbang informal.

"Sektor formal mencatatkan angka 74 orang, sementara untuk sektor informal berada di angka 61 orang," terang Supriyono.

Posisi formal yang paling banyak diserbu meliputi plantation worker (pekerja perkebunan) di Malaysia, tenaga agrikultur, hingga pekerja teknis industri. 

Adapun di sektor informal, posisi caregiver (perawat lansia) dan housemaid di Taiwan serta Hong Kong masih jadi incaran.

Dari komposisi gender, jumlah pekerja laki-laki tercatat 71 orang dan perempuan 64 orang. Menyikapi tren ini, Disdagnaker Pacitan mewanti-wanti para calon pekerja agar tetap menggunakan jalur prosedural lewat Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) terdaftar.

"Hal ini krusial demi menjamin perlindungan hukum, keselamatan, serta pemenuhan hak-hak ketenagakerjaan selama bekerja di negara orang," pungkas Supriyono. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Yusuf Arifai
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Timur, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.