Menko Pangan Ingatkan Alih Fungsi Lahan Produktif, Unira Siap Kolaborasi untuk Pangan
Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan menyatakan, praktik alih fungsi lahan produktif mempengaruhi kedaulatan pangan yang berkelanjutan. Menko Zulkifli menyatakan hal itu saat berada di Unira Malang.
MALANG – Menteri Koordinator bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan menyatakan, praktik alih fungsi lahan produktif sangat mempengaruhi kedaulatan pangan yang berkelanjutan.
"Sudah ada Keppres-nya, alih fungsi dari lahan produktif pertanian dan pangan itu harus diatur dan dibatasi. Yang alih fungsi lahan sawah harus mengganti cetak sawah baru, bisa satu kali lipat, dua atau tiga kalinya," tandas Menko Pangan Zulhas, dalam kesempatan di Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang, Selasa (24/2/2026).
Ia bahkan berseloroh, ketika kampus Unira Malang ini kalau dulunya memang dibangun dari alih fungsi lahan pertanian, maka berkewajiban mengganti lahannya.
Menko Pangan juga mengingatkan agar sivitas akademika di kampus juga bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan. Terutama, terkait persoalan sampah yang harus menjadi perhatian bersama.
"Termasuk di kampus, tidak boleh lagi kita menjadi orang yang tidak bertanggung jawab, dengan membuang sampah dan hanya menumpuknya. Saya ditugaskan Pak Presiden menyelesaikannya (persoalan sampah) dalam dua tahun," kata Menko Zulhas.

Ke depan, lanjutnya, mulai dari kampus, sekolah, hotel dan restoran, juga rumah sakit, yang punya unit usaha di lingkungannya, semua harus bisa menangani sampahnya selesai di tempat, baik sampah organik maupun anorganik.
Menko Zulhas menandaskan, sampah bisa menjadi sumber penyakit dan mikroplastik.
"Jangan malas mengolah sampah. Yang organik bisa dikelola menjadi pupuk, yang organik bisa didaur ulang dan punya nilai ekonomi laku dijual," tandasnya.
Sementara itu, Rektor Unira Malang H. Imron Rosyadi Hamid, MSi, PhD. mengungkapkan, program ketahanan pangan punya turunan program-program strategis. Yakni, harus mampu menstabilkan harga komoditas pertanian, masalah pupuk, juga membatasi produk impor.
"Kita lihat Kabupaten Malang punya potensi besar di sektor pangan, baik dari hasil pertanian, hortikultura dan perkebunan. Nah, lahan-lahan produktif banyak yang perlu terus di-upgrade. Kabupaten Malang harus siap menjadi buffer area untuk ketahanan pangan," tandas H. Imron.
Menurutnya, Unira Malang sendir punya prodi pertanian dan siap turut kolaborasi dalam bentuk riset untuk meningkatkan kemandirian dan ketahanan pangan.
Beberapa riset sudah dilakukan dan berdampak, meskipun sementara ini riset yang dilakukan lebih banyak dengan pendanaan mandiri kampus.
"Tinggal lebih meningkatkan kolaborasi, bisa juga dengan pemberdayaan langsung petani melalui kegiatan KKN Tematik," kata Rektor.
Ia lalu menyebut, kontribusi nyata dan praktik baik kampus Unira Malang melalui Program KKN-Tematik (KKN-T) 2025 lalu. Dimana, program tersebut fokus pada penguatan ekosistem social enterprise desa dan diversifikasi pangan lokal.
"Langkah ini adalah komitmen UNIRA untuk mendukung target swasembada pangan nasional, sekaligus merespons tantangan krisis pangan global melalui inovasi dari kampus," ujar Gus Rektor Imron. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



