Efisiensi Update Aplikasi, Institut STTS Surabaya Bedah Teknologi Server Driven UI
Institut STTS (ISTTS) Surabaya menggelar diskusi 'Server Driven UI' bersama GDE Android Sidiq Permana. Teknologi ini memungkinkan update aplikasi tanpa melalui proses review store.
Surabaya – Siklus rilis aplikasi mobile yang kaku serta ketergantungan pada proses review di Play Store maupun App Store mulai menemui titik jenuh. Menjawab tuntutan bisnis yang serba instan, Institut STTS (ISTTS) Surabaya menggelar diskusi fundamental bertajuk 'Server Driven UI and Spec Driven Development in Flutter'.
Hadir sebagai narasumber utama, Sidiq Permana yang merupakan Co-Founder & CIO NBS.DEV sekaligus Google Developer Expert (GDE) Android. Ia membedah anatomi Server Driven UI (SDUI) di hadapan ratusan praktisi dan mahasiswa dalam rangkaian Flutter Fusion Conference, Rabu (25/2/2026).
Selama ini, setiap perubahan kecil pada tampilan aplikasi mengharuskan pengguna mengunduh pembaruan (update). Namun, melalui teknologi SDUI, aplikasi hanya bertindak sebagai 'cangkang cerdas' yang merender komponen berdasarkan instruksi data dari server secara real-time.
Sidiq menekankan bahwa kunci utama teknologi ini terletak pada sinkronisasi komponen di kedua sisi, baik frontend maupun backend.
"Untuk menerapkan SDUI, tim pengembang harus membangun design system yang terstandarisasi di sisi aplikasi maupun backend," tegas Sidiq.
Dengan sistem ini, aplikasi tidak lagi bersifat statis. Tim produk dapat meluncurkan kampanye musiman atau mengubah tata letak menu dalam hitungan detik tanpa perlu menunggu persetujuan toko aplikasi.
"Di sisi mobile, diperlukan mesin rendering cerdas untuk memetakan kunci identifikasi dari server ke komponen UI native yang sesuai," tambahnya.
Solusi Konflik Tim Melalui Spec Driven Development
Selain SDUI, seminar ini juga menawarkan solusi atas masalah klasik pengembangan perangkat lunak, yakni perbedaan persepsi data antara tim frontend dan backend. Melalui Spec Driven Development, spesifikasi teknis disepakati sebagai 'hukum tertinggi' sebelum kode mulai ditulis.
Hal ini krusial untuk memastikan hierarki tampilan yang diterima pengguna tetap akurat dan sesuai dengan logika bisnis yang disusun di backend.
"Logika bisnis dikembangkan untuk menyusun respons UI secara dinamis berdasarkan segmen pengguna, versi aplikasi, atau eksperimen A/B testing," jelas Sidiq.
Pesan utama dari Flutter Fusion Conference kali ini menegaskan bahwa masa depan aplikasi mobile bukan lagi tentang seberapa banyak fitur yang tersedia, melainkan seberapa adaptif aplikasi tersebut terhadap dinamika pasar.
Melalui kombinasi SDUI dan spesifikasi yang matang, tim pengembang kini memiliki kendali mutlak atas produk mereka.
"Hal ini memungkinkan tim memberikan pengalaman yang sangat terpersonalisasi karena server memegang kendali penuh atas hierarki tampilan," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



