Jejak Sejarah Kampung Tanjung di Malang, Nama Lama di Sekitar Pasar Kasin yang Bertahan Ratusan Tahun
Nama Tanjung di sekitar Pasar Kasin, Kota Malang, menyimpan jejak sejarah panjang yang diduga telah ada sejak masa Hindu-Buddha dan masih bertahan dalam ingatan masyarakat hingga kini.
MALANG – Di tengah padatnya aktivitas kawasan sekitar Pasar Kasin, tersimpan sebuah nama lama yang menyimpan jejak sejarah panjang. Meski kini kawasan tersebut dikenal sebagai Jalan Ichwan Ridwan Rais, masyarakat setempat masih akrab menyebutnya sebagai kawasan Tanjung.
Pemerhati sejarah dan budayawan Malang, Agung Buana, menyebut nama Tanjung diyakini telah digunakan jauh sebelum Indonesia merdeka. Bahkan, penamaan itu diduga sudah ada sejak masa kerajaan Hindu-Buddha.
Menurut Agung, penamaan wilayah di Malang pada masa lampau umumnya berkaitan erat dengan kondisi lingkungan alam di sekitarnya.
“Penyebutan nama di daerah Malang biasanya terkait dengan tanaman yang tumbuh di wilayah tersebut. Jika banyak pohon tanjung maka disebut Tanjung. Kalau banyak belimbing menjadi Blimbing, dan jika banyak pohon sukun disebut Sukun,” ujarnya, Rabu (11/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa nama Tanjung bukan sekadar sebutan tanpa makna. Penamaan tersebut kemungkinan besar berasal dari kondisi ekologis wilayah yang dahulu dipenuhi pohon tanjung (Mimusops elengi), tanaman yang dikenal memiliki bunga harum serta kayu yang kuat.
Jejak penggunaan nama Tanjung juga dapat ditemukan dalam sejumlah peta peninggalan kolonial Belanda. Agung menyebut dalam peta-peta yang dibuat sekitar tahun 1920-an hingga 1945, kawasan tersebut masih tercatat dengan nama Tanjung.
“Di peta tahun 1945 masih ada penyebutan Tanjung. Bahkan wilayah Bareng yang dekat Pasar Kasin dulu juga disebut Tanjung,” ungkapnya.
Menariknya, pada masa itu terdapat dua wilayah berbeda di Malang yang sama-sama dikenal dengan nama Tanjung, yakni di bagian utara dan selatan kota.
“Tanjung itu ada dua. Di utara ada, di selatan juga ada. Jadi bukan hanya satu titik seperti yang dipahami sekarang,” jelasnya.
Pada masa kolonial, kawasan Tanjung disebut membentang cukup luas, mulai dari area Lambau—yang dahulu dikenal sebagai lokasi sekolah pertanian—hingga wilayah Jalan Turunan, jalur tanjakan dari Pasar Kasin menuju arah timur.
Hal tersebut menunjukkan bahwa Tanjung pada masa itu bukan sekadar nama kampung kecil, melainkan kawasan yang memiliki peran penting dalam perkembangan wilayah kota.
Agung juga menyebut nama Jalan Ichwan Ridwan Rais baru mulai digunakan sekitar tahun 1960 hingga 1970-an. Sebelumnya, masyarakat lebih mengenal jalan tersebut sebagai Jalan Tanjung.
“Orang dulu menyebutnya Jalan Tanjung karena memang kampungnya bernama Tanjung,” katanya.
Meski nama jalan telah berubah, ingatan kolektif masyarakat terhadap sebutan lama tersebut tidak sepenuhnya hilang. Hingga kini, nama Tanjung masih bertahan dalam administrasi wilayah maupun dalam penyebutan masyarakat, salah satunya melalui nama Kelurahan Tanjungrejo.
Lebih jauh, Agung menilai kemungkinan besar penamaan Tanjung sudah ada sejak masa klasik Nusantara, yakni periode Hindu-Buddha sekitar abad ke-9 hingga abad ke-15.
“Masa klasik itu abad ke-9 sampai abad ke-15. Sangat mungkin penamaan Tanjung sudah ada sejak masa itu karena pohon tanjung memang banyak tumbuh di kawasan tersebut,” ujarnya.
Jika asumsi tersebut benar, maka nama Tanjung bukan hanya peninggalan era kolonial, tetapi juga jejak toponimi yang telah bertahan ratusan tahun, menghubungkan masa kerajaan, kolonial, hingga perkembangan kota modern saat ini.
Bagi Agung, nama kampung bukan sekadar label administratif, melainkan arsip hidup yang merekam hubungan manusia dengan alam di masa lalu.
Di tengah perubahan wajah Kota Malang yang terus berkembang, nama Tanjung menjadi pengingat bahwa sebelum kawasan itu dipenuhi permukiman dan jalan beraspal, wilayah tersebut pernah ditandai oleh rimbunnya pohon tanjung yang memberi identitas pada lingkungannya.
“Itu bukan kebetulan. Nama kampung adalah identitas sejarah yang merekam kondisi lingkungan pada zamannya,” pungkasnya.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


