Misi Pengabdian, Mahasantri Ma’had Aly At-Tarmasi Praktikkan Fiqh Sosial di Lokasi KKM
Sebanyak 32 mahasantri Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan diterjunkan untuk KKM di wilayah Pacitan dan Wonogiri. Fokus pada pengabdian fiqh sosial dan humanis.
Pacitan – Sebanyak 32 mahasantri Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan resmi dilepas untuk menjalani Kuliah Khidmah Mahasantri (KKM) selama sebulan ke depan. Mereka akan diterjunkan ke empat kecamatan di Pacitan dan Wonogiri dengan membawa misi pengabdian sekaligus mengamalkan ilmu fiqh dan ushul fiqh di tengah masyarakat.
Pembekalan dilakukan langsung oleh Mudir Ma’had Aly At-Tarmasi, KH Luqman Al-Hakim Harits Dimyathi, di Dalem Paguron Soko Papat Perguruan Islam Pondok Tremas, Sabtu (14/2/2026) malam. Di hadapan para mahasantri, ia menegaskan bahwa KKM bukan sekadar agenda akademik.
“Ini syarat menuju purna. Tapi lebih dari itu, ini untuk kalian sendiri. Kalau kemudian bisa bermanfaat untuk umat, itu bonus yang luar biasa,” ujarnya.
KH Luqman mengingatkan, ada dua hal utama yang harus menjadi pegangan selama KKM. Pertama, mempraktikkan ilmu yang selama ini dipelajari di bangku kuliah. Mulai dari khutbah tanpa teks, penyampaian materi Ramadan dan zakat, hingga penguatan pemahaman keagamaan dasar. Kedua, menerapkan fiqh sosial dan fiqh ekologis, termasuk menjaga tradisi keilmuan yang bersumber dari kitab turats. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang halus dan membumi.

“Ajak masyarakat dengan cara yang mengena dan humanis. Seperti yang dicontohkan para pendahulu kita,” pesannya.
Sementara itu, Ketua LP2M Ma’had Aly At-Tarmasi, Dr Eko Wahid Budiyanto, menjelaskan bahwa 32 mahasantri tersebut dibagi dalam empat kelompok. Masing-masing didampingi satu muhadir pendamping lapangan (MPL).
Selama satu bulan, mereka akan menjalankan KKM di Kecamatan Nawangan dan Bandar (Pacitan), Kecamatan Punung (Pacitan), serta Kecamatan Ngadirojo (Wonogiri).
Menurut Eko, KKM menjadi ruang praktik nyata bagi mahasantri untuk menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi. Bukan hanya mengajar atau berceramah, tetapi hadir memberi solusi atas persoalan keumatan dengan pendekatan fiqh yang kontekstual.
“Ilmu tidak berhenti di kelas. Harus diuji di masyarakat. Di situlah mahasantri belajar menjadi alim yang responsif terhadap zaman,” tandasnya.
Sebulan ke depan akan menjadi fase penting. Bagi Ma'had Aly At-Tarmasi, ini pengabdian. Bagi mahasantri, ini latihan menjadi pelayan umat yang sesungguhnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



