TIMES JATIM, MALANG – Pemandangan anak muda membuka laptop di kafe kini menjadi hal biasa di banyak kota. Meja kecil, kopi susu, colokan listrik, dan jaringan Wi-Fi sudah cukup untuk disebut sebagai “kantor”.
Fenomena ini banyak dilekatkan pada Generasi Z, generasi yang tumbuh bersama internet, platform digital, dan fleksibilitas kerja. Bagi sebagian orang, ini adalah simbol kemajuan. Namun bagi yang lain, ini menyimpan persoalan yang lebih dalam tentang makna kerja, produktivitas, dan masa depan tenaga kerja muda.
Banyak Gen Z memilih bekerja di ruang publik bukan semata karena gaya hidup, tetapi karena kondisi kerja yang memang berubah. Pekerjaan lepas, kerja jarak jauh, dan sistem kontrak jangka pendek membuat kantor tidak lagi menjadi pusat aktivitas.
Perusahaan rintisan, industri kreatif, dan platform digital memberi ruang kerja yang lebih fleksibel. Dalam konteks ini, kafe menjadi alternatif murah dan mudah diakses, terutama bagi mereka yang tidak memiliki ruang kerja nyaman di rumah.
Namun, kerja sambil nongkrong tidak selalu identik dengan efisiensi. Beberapa riset menunjukkan bahwa lingkungan dengan banyak distraksi dapat menurunkan fokus dan kualitas kerja. Musik keras, lalu lalang pengunjung, dan godaan media sosial sering kali membuat waktu kerja menjadi lebih panjang tanpa hasil yang sebanding. Banyak yang terlihat sibuk, tetapi tidak selalu produktif.
Di sisi lain, fenomena ini juga berkaitan dengan tekanan sosial. Media sosial membentuk gambaran bahwa bekerja harus terlihat menarik: laptop tipis, kopi estetik, dan lokasi yang “layak unggah”.
Kerja tidak lagi hanya soal menghasilkan sesuatu, tetapi juga tentang membangun citra diri. Akibatnya, sebagian anak muda terjebak pada kebutuhan untuk terlihat sibuk, bukan benar-benar berkembang secara profesional.
Masalah lain yang tidak kalah penting adalah soal keamanan kerja. Banyak Gen Z yang bekerja secara lepas tanpa kontrak jelas, jaminan kesehatan, atau perlindungan ketenagakerjaan.
Mereka bebas memilih tempat kerja, tetapi juga rentan kehilangan penghasilan kapan saja. Kerja fleksibel sering kali dibayar dengan ketidakpastian. Di tengah biaya hidup yang terus naik, kondisi ini membuat banyak anak muda berada dalam posisi yang rapuh secara ekonomi.
Fenomena “kerja sambil nongkrong” juga menunjukkan pergeseran relasi antara ruang privat dan ruang kerja. Dulu, bekerja identik dengan kantor dan jam tertentu. Sekarang, batas itu kabur. Pekerjaan bisa masuk ke waktu istirahat, akhir pekan, bahkan saat sedang bersama teman. Fleksibilitas berubah menjadi tekanan untuk selalu tersedia. Tidak sedikit anak muda yang merasa lelah secara mental karena sulit memisahkan waktu kerja dan waktu pribadi.
Dari sisi kebijakan, situasi ini belum sepenuhnya mendapat perhatian serius. Regulasi ketenagakerjaan masih banyak berfokus pada model kerja formal di kantor. Sementara itu, jutaan pekerja muda bergerak di sektor informal digital yang minim perlindungan. Negara belum cukup hadir untuk memastikan bahwa fleksibilitas tidak berubah menjadi eksploitasi terselubung.
Pendidikan tinggi juga ikut berperan dalam membentuk kondisi ini. Banyak lulusan perguruan tinggi yang tidak terserap di sektor formal karena keterbatasan lapangan kerja. Akhirnya, pekerjaan berbasis proyek dan platform digital menjadi pilihan utama, bukan karena ideal, tetapi karena tersedia. Kafe lalu menjadi ruang kerja darurat, bukan pilihan strategis.
Bukan berarti kerja di kafe selalu buruk. Bagi sebagian orang, suasana terbuka justru membantu menjaga semangat. Interaksi sosial ringan bisa mengurangi rasa terisolasi yang sering dialami pekerja jarak jauh. Masalah muncul ketika pola ini dianggap normal tanpa melihat persoalan struktural di baliknya: upah rendah, jam kerja tidak jelas, dan minimnya perlindungan sosial.
Karena itu, fenomena ini perlu dibaca lebih jernih. Bukan sekadar soal gaya hidup anak muda, tetapi soal arah pembangunan ketenagakerjaan. Jika negara dan dunia usaha hanya memuji fleksibilitas tanpa membenahi perlindungan, maka generasi muda akan tumbuh dalam sistem kerja yang tidak stabil.
Gen Z tidak kekurangan semangat dan kemampuan. Mereka cepat belajar, adaptif, dan terbiasa dengan teknologi. Yang sering kurang adalah ekosistem kerja yang adil dan berkelanjutan. Kerja seharusnya memberi kepastian dasar: penghasilan layak, perlindungan kesehatan, dan peluang berkembang. Bukan sekadar koneksi internet dan secangkir kopi.
Kerja sambil nongkrong mungkin akan tetap menjadi bagian dari lanskap kota modern. Tetapi masa depan tenaga kerja muda tidak boleh berhenti pada meja kafe. Ia harus dibangun melalui kebijakan yang melindungi, pendidikan yang relevan, dan pasar kerja yang lebih sehat. Tanpa itu, generasi yang terlihat bebas ini justru berisiko menjadi generasi yang paling rentan.
***
*) Oleh : Moh Farhan Aziz, Mahasiswa Pascasarjana ADM Publik Unisma.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |