https://jatim.times.co.id/
Opini

Kultur Petani Desa

Sabtu, 10 Januari 2026 - 12:11
Kultur Petani Desa Andriyady, SP., Penulis dan Pengamat Sosial Politik.

TIMES JATIM, MALANG – Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar membuka matanya, desa sudah lebih dulu terjaga. Langkah-langkah kaki menapak tanah basah, disertai suara cangkul yang beradu dengan bebatuan kecil, menjadi alarm alami yang tidak pernah terlambat. Di sanalah para petani memulai hari: tanpa jas, tanpa dasi, hanya dengan topi caping dan doa yang disimpan di telapak tangan.

Kultur petani desa bukan sekadar cara menanam padi atau mengairi sawah. Ia adalah cara hidup, cara berpikir, bahkan cara mencintai. Di ladang, manusia belajar tunduk pada musim, berdamai dengan gagal panen, dan menata ulang harapan setiap kali hujan datang terlalu cepat atau terlalu lama. Petani terbiasa menggantungkan nasib pada langit, tetapi harga diri mereka tertanam kuat di bumi.

Di desa, kerja bukan hanya soal mencari upah. Ia adalah laku hidup yang diwariskan seperti cerita lama: dari ayah ke anak, dari ibu ke cucu. Anak-anak tumbuh dengan kuku yang sering kotor oleh tanah, bukan karena malas mandi, tetapi karena sejak kecil mereka belajar bahwa tanah adalah guru pertama tentang kesabaran. Dari tanah mereka belajar bahwa hasil tidak pernah lahir dari tergesa-gesa.

Kultur ini mengajarkan solidaritas yang sunyi tetapi kokoh. Saat satu petani sakit, sawahnya tidak dibiarkan sendiri. Tetangga datang membantu menanam atau memanen, tanpa kontrak, tanpa kuitansi. Balasannya sederhana: senyum, terima kasih, dan keyakinan bahwa suatu hari bantuan itu akan kembali, seperti air irigasi yang berputar dari hulu ke hilir.

Namun, kultur petani desa hari ini berdiri di persimpangan jalan. Di satu sisi, modernisasi menjanjikan traktor, pupuk canggih, dan pasar digital. Di sisi lain, generasi muda mulai memandang sawah sebagai halaman belakang masa lalu, bukan halaman depan masa depan. Banyak anak petani lebih mengenal layar ponsel daripada tekstur lumpur di sela jari kaki.

Desa perlahan kehilangan pewaris kearifan. Anak-anak yang bersekolah tinggi sering memilih pulang setahun sekali, membawa oleh-oleh kota, tetapi meninggalkan sawah pada orang tua yang semakin renta. Ladang tetap hijau, tetapi penggarapnya semakin tua, punggungnya semakin membungkuk, dan napasnya semakin pendek.

Ironisnya, negeri ini memanggil petani sebagai pahlawan pangan, tetapi sering memperlakukan mereka seperti figuran dalam panggung pembangunan. Harga gabah jatuh, pupuk langka, cuaca tak menentu, sementara janji kebijakan datang seperti awan tipis yang tidak pernah benar-benar menurunkan hujan.

Kultur petani mengajarkan kejujuran yang nyaris kuno. Mereka menakar benih dengan tangan, bukan dengan tipu daya. Mereka tahu bahwa menipu tanah sama saja menanam petaka untuk musim berikutnya. Dari situlah lahir etika kerja yang tidak banyak bicara, tetapi panjang sabar.

Di desa, waktu berjalan berbeda. Tidak secepat notifikasi kota, tidak sekeras klakson jalan raya. Waktu diukur dari tumbuhnya batang padi, dari menguningnya bulir, dari berat karung saat panen. Segalanya perlahan, tetapi pasti. Sebuah ritme hidup yang hari ini mulai dianggap kalah cepat oleh dunia yang mabuk target.

Padahal, dari kultur inilah bangsa ini belajar tentang ketahanan. Saat krisis datang, sawah tetap menumbuhkan nasi. Saat ekonomi goyah, dapur desa masih mengepul. Petani tidak banyak menulis teori tentang kemandirian pangan, tetapi tangan mereka adalah bukti paling konkret.

Menjaga kultur petani desa berarti menjaga ingatan kolektif bangsa: bahwa perut kenyang lahir dari lumpur, bukan dari rapat-rapat berpendingin udara. Bahwa sepiring nasi adalah hasil dialog panjang antara manusia, tanah, dan langit.

Jika suatu hari sawah hanya tinggal latar foto wisata, dan petani tinggal cerita buku pelajaran, maka kita bukan hanya kehilangan profesi, tetapi kehilangan karakter. Kita kehilangan generasi yang paham arti menunggu, arti gagal, dan arti bangkit tanpa banyak mengeluh.

Kultur petani desa adalah puisi yang ditulis dengan keringat. Ia tidak berima indah di media sosial, tetapi nadanya mengalir di setiap suapan nasi yang kita makan. Selama masih ada petani yang menanam dengan doa, desa belum benar-benar sunyi. Dan selama desa belum sunyi, bangsa ini masih punya alasan untuk berharap. (*)

***

*) Oleh : Andriyady, SP., Penulis dan Pengamat Sosial Politik.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.