https://jatim.times.co.id/
Opini

Guru Inovatif Kunci Siswa Kreatif

Sabtu, 10 Januari 2026 - 19:31
Guru Inovatif Kunci Siswa Kreatif Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.

TIMES JATIM, BOJONEGORO – Di ruang kelas, masa depan sering kali lahir dalam bentuk yang sederhana: sebatang kapur, selembar papan tulis, dan seorang guru yang berdiri di depan murid-muridnya. Tetapi jangan salah, dari ruang yang tampak biasa itulah arah bangsa diam-diam ditentukan. 

Jika guru hanya mengajar dengan cara lama membaca buku, memberi tugas, lalu menguji hafalan maka sekolah akan menyerupai pabrik: menghasilkan produk seragam, rapi, tetapi miskin imajinasi. Sebaliknya, ketika guru berani berinovasi, kelas berubah menjadi bengkel ide, tempat pikiran murid ditempa, bukan dicetak massal.

Pendidikan hari ini tidak lagi hidup di zaman kapur dan penghapus semata. Anak-anak tumbuh di tengah layar, algoritma, dan banjir informasi. Mereka lebih cepat menggeser layar daripada membuka buku. 

Jika guru tetap bertahan pada metode satu arah, maka pelajaran akan terasa seperti kaset usang yang diputar di telinga generasi digital. Inovasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak agar sekolah tidak tertinggal seperti kereta uap di tengah lalu lintas pesawat jet.

Guru inovatif bukan berarti harus selalu menggunakan teknologi mahal atau aplikasi canggih. Inovasi sering kali lahir dari keberanian mengubah cara pandang: dari “murid sebagai objek” menjadi “murid sebagai subjek”. 

Guru yang inovatif tahu bahwa kreativitas tidak tumbuh dari ketakutan, tetapi dari rasa aman untuk mencoba, salah, lalu mencoba lagi. Di kelas seperti inilah siswa berani bertanya, berdebat, menulis dengan gaya sendiri, dan memandang masalah dari sudut yang tak lazim.

Sayangnya, sistem pendidikan kita masih sering menilai keberhasilan dari angka rapor dan nilai ujian. Murid yang pandai menghafal dianggap cerdas, sementara yang banyak bertanya kerap dicap mengganggu. 

Padahal, kreativitas tidak lahir dari hafalan, melainkan dari keberanian mengolah pengetahuan menjadi gagasan baru. Jika sekolah terus menjadikan ujian sebagai tujuan utama, maka siswa akan tumbuh seperti burung dalam sangkar emas: indah, tetapi lupa caranya terbang.

Di sinilah peran guru menjadi kunci. Guru inovatif mampu mengubah mata pelajaran yang kering menjadi cerita yang hidup. Matematika tidak hanya soal angka, tetapi cara berpikir logis. Sejarah bukan sekadar tanggal, melainkan kisah manusia dengan segala konflik dan harapannya. 

Bahasa bukan cuma tata kalimat, tetapi jembatan untuk mengekspresikan perasaan dan gagasan. Ketika pelajaran dihidupkan, siswa tidak lagi belajar karena takut nilai jelek, melainkan karena penasaran.

Namun, menuntut guru agar inovatif tanpa memperbaiki ekosistem pendidikan adalah seperti meminta petani panen di tanah tandus. Beban administrasi yang menumpuk, kurikulum yang sering berubah, serta kesejahteraan yang belum merata membuat banyak guru kelelahan sebelum sempat berkreasi. Tidak sedikit guru yang lebih sibuk mengisi laporan daripada merancang metode belajar yang menarik. Dalam kondisi seperti ini, inovasi sering kalah oleh rutinitas.

Negara seharusnya memahami bahwa investasi terbesar pendidikan bukan hanya gedung megah atau buku paket tebal, tetapi guru yang diberi ruang untuk tumbuh. Pelatihan yang bermakna, bukan sekadar formalitas; penghargaan terhadap kreativitas mengajar; serta kebijakan yang memanusiakan guru adalah fondasi penting. Guru yang merasa dihargai akan mengajar dengan hati, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Ketika guru berinovasi, dampaknya menjalar jauh melampaui ruang kelas. Siswa kreatif tumbuh menjadi generasi yang tidak mudah menyerah, tidak takut berbeda, dan tidak gagap menghadapi perubahan. 

Mereka tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan peluang. Di tangan mereka, tantangan bukan dilihat sebagai tembok, melainkan sebagai pintu yang bisa dibuka dengan ide.

Sebaliknya, jika pendidikan hanya melahirkan siswa patuh tanpa daya cipta, bangsa ini akan menjadi pasar besar bagi produk dan gagasan orang lain. Kita mungkin memiliki gedung tinggi dan jalan tol panjang, tetapi tetap bergantung pada inovasi dari luar. Kreativitas siswa adalah modal kultural yang menentukan apakah kita menjadi bangsa pencipta atau sekadar bangsa pengguna.

Guru inovatif, dengan segala keterbatasannya, sesungguhnya sedang menanam benih yang hasilnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Ia mungkin tidak terkenal, namanya jarang masuk berita, tetapi jejaknya hidup dalam cara berpikir murid-muridnya. Di sanalah pendidikan menemukan maknanya yang paling sunyi sekaligus paling agung: mengubah manusia dari dalam.

Jika kita sungguh menginginkan siswa kreatif, jangan hanya sibuk memperdebatkan kurikulum atau mengejar peringkat internasional. Lihatlah ruang kelas, dengarkan suara guru, dan tanyakan apakah mereka punya cukup ruang untuk berinovasi. 

Masa depan bangsa tidak lahir dari tumpukan dokumen kebijakan, melainkan dari guru yang berani mengajar dengan cara berbeda dan murid yang diberi kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri.

***

*) Oleh : Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.