TIMES JATIM, MALANG – Di ruang kelas, guru seharusnya menjadi pelita. Ia bukan hanya pengajar mata pelajaran, melainkan penuntun arah hidup. Namun dalam realitas pendidikan hari ini, peran luhur itu kerap mengalami distorsi.
Guru tidak lagi hadir sebagai pendidik yang menumbuhkan, melainkan sering terjebak menjadi pelaksana sistem, penjaga administrasi, bahkan kadang berubah menjadi “petugas target” yang sibuk mengejar angka ketimbang membangun manusia.
Distorsi ini tidak selalu lahir dari niat buruk. Banyak guru justru terjebak oleh tekanan, beban, dan tuntutan yang menumpuk dari berbagai arah. Tapi justru karena itulah distorsi ini berbahaya: ia tampak wajar, dianggap normal, dan pelan-pelan menggerus esensi pendidikan tanpa disadari.
Kita menyaksikan bagaimana sekolah makin sibuk menyiapkan siswa untuk ujian, bukan untuk kehidupan. Guru pun akhirnya ikut larut dalam arus itu. Pendidikan menjadi sempit, sekadar kompetisi nilai, rapor, ranking, dan sertifikat. Padahal di balik angka-angka itu ada jiwa anak-anak yang sedang tumbuh, yang seharusnya disentuh dengan keteladanan, dialog, dan perhatian.
Salah satu distorsi paling nyata adalah ketika guru dipaksa menjadi mesin sistem. Dalam banyak kasus, guru lebih banyak mengurus perangkat pembelajaran, laporan, asesmen, dan administrasi yang tidak ada habisnya, dibanding membangun hubungan manusiawi dengan murid.
Akhirnya kelas berubah menjadi ruang formalitas. Pembelajaran berjalan seperti rutinitas pabrik: masuk, absensi, materi, tugas, pulang. Guru selesai mengajar bukan karena anak paham, tetapi karena jam pelajaran sudah habis. Murid pun belajar bukan karena ingin tahu, melainkan karena takut tidak mengerjakan tugas.
Dalam kondisi seperti ini, pendidikan kehilangan ruhnya. Kelas tidak lagi menjadi tempat bertumbuh, tetapi sekadar ruang prosedural. Ironisnya, semakin sibuk administrasi, semakin sedikit ruang untuk mendidik dengan hati.
Mendidik Bergeser Menjadi Mengendalikan
Distorsi berikutnya muncul ketika guru lebih fokus mengendalikan murid daripada memahami mereka. Guru merasa tugas utamanya adalah membuat kelas tertib, bukan membuat kelas hidup. Ketika murid banyak bertanya, dianggap mengganggu. Ketika murid kritis, dicap melawan. Ketika murid berbeda, dipaksa seragam.
Padahal pendidikan tidak pernah lahir dari ketakutan. Anak-anak tidak tumbuh karena ditekan, melainkan karena diberi ruang untuk mencoba, salah, dan belajar.
Di banyak sekolah, kedisiplinan dipahami sebagai kepatuhan buta. Anak harus diam, duduk rapi, menatap papan tulis, dan menghafal. Guru merasa berhasil ketika kelas sunyi. Padahal kelas yang terlalu sunyi sering kali bukan tanda belajar, melainkan tanda kehilangan keberanian.
Kita lupa bahwa murid bukan robot. Mereka adalah manusia kecil yang punya rasa ingin tahu, emosi, keresahan, dan masalah hidup yang kadang tidak pernah terlihat oleh guru.
Guru Terjebak Ilusi Prestasi
Distorsi lain yang lebih halus adalah ketika guru ikut larut dalam ilusi prestasi. Segala sesuatu dinilai dari hasil, bukan proses. Murid yang cepat menangkap materi dianggap pintar, sedangkan yang lambat dicap lemah. Anak yang sering juara dipuji habis-habisan, sementara yang pendiam jarang dilihat potensinya.
Kelas akhirnya menjadi arena seleksi. Pendidikan berubah menjadi panggung kompetisi, bukan ruang pembinaan.
Guru kadang lupa bahwa tugas pendidikan bukan memilih siapa yang terbaik, tetapi memastikan semua anak bertumbuh. Tidak semua murid lahir dengan kecepatan yang sama, tetapi semua murid berhak mendapatkan perhatian yang sama.
Prestasi memang penting, tetapi ketika prestasi menjadi satu-satunya ukuran, pendidikan berubah menjadi industri penghargaan. Murid belajar untuk mengejar pengakuan, bukan membangun karakter. Yang lebih tragis, banyak anak kehilangan rasa percaya diri karena merasa tidak cukup baik di mata guru.
Krisis Teladan di Ruang Kelas
Distorsi guru juga muncul saat teladan tidak lagi menjadi fondasi. Di masa lalu, guru dihormati bukan karena seragamnya, tetapi karena integritasnya. Guru adalah contoh. Cara berbicara, cara bersikap, cara memperlakukan orang lain semua menjadi pelajaran hidup yang lebih kuat dari buku teks.
Namun hari ini, kita menghadapi krisis keteladanan. Ada guru yang mengajar disiplin, tetapi ia sendiri sering terlambat. Ada guru yang bicara moral, tetapi mudah merendahkan murid di depan kelas. Ada guru yang mengajarkan etika, tetapi tak mampu mengendalikan emosinya.
Padahal murid belajar lebih cepat dari perilaku guru dibanding dari nasihat guru. Ketika keteladanan hilang, pendidikan menjadi kosong. Murid mungkin menghafal teori, tetapi kehilangan nilai.
Guru yang Lupa Menjadi Manusia
Distorsi paling menyedihkan adalah ketika guru lupa bahwa mendidik adalah tindakan kemanusiaan. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi membangun hubungan. Murid bukan sekadar peserta didik, tetapi manusia yang membutuhkan pengakuan dan perhatian.
Banyak anak hari ini tidak butuh guru yang pintar menjelaskan, tetapi guru yang mau mendengar. Banyak anak tidak butuh guru yang keras, tetapi guru yang memahami. Banyak anak tidak butuh guru yang sempurna, tetapi guru yang hadir.
Ketika guru terlalu sibuk mengejar target kurikulum, ia kehilangan kemampuan paling dasar dalam pendidikan: melihat murid sebagai manusia. Dan di titik itulah distorsi terjadi. Pendidikan berjalan, tetapi tidak menyentuh.
Mengembalikan Ruh Guru sebagai Pendidik
Kita tidak bisa menyalahkan guru sepenuhnya. Sistem yang menekan, budaya sekolah yang kaku, serta beban administrasi yang berlebihan juga menjadi akar masalah. Tetapi bagaimanapun, perubahan harus dimulai dari kesadaran bahwa guru adalah ruh pendidikan.
Guru harus kembali pada esensi: menjadi pembimbing, bukan sekadar pengajar. Menjadi penumbuh, bukan pengendali. Menjadi inspirasi, bukan hanya pemberi tugas.
Pendidikan yang sehat lahir dari hubungan yang sehat. Guru yang mampu menyapa murid dengan hangat, memahami kesulitan mereka, dan memberi ruang bagi mereka untuk berkembang, adalah guru yang sedang membangun masa depan bangsa.
Yang diingat murid bukan rumus yang diajarkan, tetapi cara guru memperlakukan mereka. Dan jika ruang kelas kehilangan ruhnya, maka yang hilang bukan hanya pelajaran, tetapi juga kemanusiaan itu sendiri.
***
*) Oleh : Abdul Aziz, S.Pd., Guru SD negeri 4 Sawojajar.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |