Petani Kampung Kopi Gunung Tambal saat memtik biji kopi yang berwarna merah ceri. (FOTO: Aditya Candra/TIMES Indonesia)

Di setiap seduhan kopi, pasti ada cerita unik di dalamnya. Seperti bagaimana teknik penanaman kopinya, teknik perawatan tanamannya, proses pasca pasca panen yang diterapkan, hingga bagaimana metode sangrainya.

TIMES Jatim,Minggu 18 Juli 2021, 12:50 WIB
53.7K
A
Aditya Candra

MAGETANDi setiap seduhan kopi, pasti ada cerita unik di dalamnya. Seperti bagaimana teknik penanaman kopinya, teknik perawatan tanamannya, proses pasca pasca panen yang diterapkan, hingga bagaimana metode sangrainya.

Seperti halnya Kampung Kopi Gunung Tambal, yang berada di Desa Alastuwo, kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Kopi ini memiliki potensi tinggi dan sangat disukai masyarakat sekitar.

Di lahan seluas 5,5 hektar ini, terdapat 7000 tanaman kopi dengan berbagai jenis, seperti axcelsa, robusta dan arabica yang digarap kurang lebih 30 orang petani.

article

"Sebelumnya, kita merintis Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) untuk mendirikan kampung kopi, tujuannya untuk mengedukasi petani kopi di wilayah Gunung Tambal ini supaya lebih modern dalam mengolah kopi," ujar Sukmono (63) Ketua Kampung Kopi Gunung Tambal kepada TIMES Indonesia, Minggu (18/7/2021).

Jika ingin menghasilkan kopi yang nikmat dan hasil panen yang lebih banyak, petani harus bisa menerapkan teknik menanam kopi yang lebih modern yang dapat meningkatkan 2 kali lipat hasil biji kopi sehingga cukup menguntungkan, apalagi disertai dengan alat - alat yang lebih modern dan teknik mengolah kopi yang benar.

"Kalau tradisional itu tanaman kopi tidak dipangkas, sehingga biji kopi yang dihasilkan sedikit. Namun jika dipangkas hasil biji kopi bisa naik 2 kali lipat atau lebih, dan yang terpenting bagaimana pasca panennya, kalau masyarakat disini kan masih banyak yang tradisional jadi kita edukasi yang lebih modern," terangnya.

Dengan teknik pasca panen yang benar, tentunya biji kopi yang berkualitas dapat dipisahkan dengan biji kopi yang hasilnya kurang baik dengan proses sortasi, yang menentukan rasa kopi itu sendiri adalah teknik proses pasca panennya, yang disesuaikan dengan jenis biji kopi dan hasil rasa kopi yang diinginkan. 

article

Namun kendalanya, di Kampung Kopi Gunung Tambal sendiri belum memiliki alat - alat pengolah kopi yang modern karena keterbatasan biaya, sehingga selama ini petani hanya mengolah biji kopi secara teadisional.

"Harapan kami pemerintah dapat mendukung kami dengan membantu memenuhi kebutuhan produksi, salah satunya ya mesin - mesin pengolah kopi yang modern seperti selepan dan mesin sangrai, sehingga mengolah kopi dapat lebih effesien dan dapat membantu meningkatkan ekonomi warga desa kami," jelasnya.

Beberapa waktu lalu, saat kelompok tani desa setempat mengadakan kegiatan panen raya kopi, Bupati Magetan, Suprowoto pun ikut hadir dalam kesempatan tersebut. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Aditya Candra
|
Editor:Faizal R Arief

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Timur, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.