Panen Porang, Petani Ngadirojo Pacitan Raup Cuan Menggiurkan
Omzet hingga Rp938 juta diraih pada panen 2025, setelah serius menekuni budidaya porang di lahan kontrak seluas kurang lebih tiga hektare.
PACITAN – Panen 67 ton porang dalam satu musim, Triyono (45), petani asal Dusun Nglurah, Desa Wonodadi Kulon, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan mengaku bisa meraup omzet menggiurkan.
Omzet hingga Rp938 juta itu ia raih pada panen 2025, setelah serius menekuni budidaya porang di lahan kontrak seluas kurang lebih tiga hektare.
Angka tersebut bukan datang tiba-tiba. Triyono beralih ke porang setelah tanaman cengkeh yang ia andalkan sebelumnya banyak mati pascapandemi Covid-19.
Ia kemudian mencoba peruntungan di komoditas yang saat itu mulai dilirik pasar ekspor.Lahan garapannya tersebar di wilayah Wonokarto, Wonosidi, dan Cangkring.
Dengan harga jual porang yang sempat berada di kisaran Rp10 ribu hingga Rp14 ribu per kilogram pada 2024–2025, hasil panen 67 ton menjadi momentum balik modal sekaligus keuntungan besar.
Meski demikian, ia tak menutup mata bahwa fluktuasi harga tetap menjadi tantang tersendiri. “Porang itu memang menjanjikan, tapi tetap harus siap dengan naik-turunnya harga,” ujarnya, Kamis (19/2/2026).
Menurut Triyono, budidaya porang bukan usaha instan. Untuk pemula, masa tanam hingga panen bisa memakan waktu sekitar dua tahun. Kunci utamanya ada pada ketelatenan dan kesabaran.
Ia memulai dari pengolahan lahan secara manual. Tanah, kata dia, menjadi fondasi utama keberhasilan tanam berikutnya.
Porang tidak cocok di lahan yang terlalu panas tanpa naungan karena suhu tanah bisa memengaruhi pertumbuhan umbi.
Penanaman biasanya dilakukan pada Oktober atau November. Memasuki Desember, tunas mulai muncul. Pada fase awal ini, lahan perlu dibersihkan dari gulma dan diberi pemupukan dua hingga tiga kali selama masa pertumbuhan.
Perawatannya relatif sederhana. Triyono menggunakan pupuk kandang sebagai pupuk dasar dan pupuk kimia dalam jumlah terbatas. Penyiraman tidak rutin dilakukan, karena tanaman ini cukup mengandalkan curah hujan.
Kendala yang kerap muncul adalah serangan jamur saat cuaca lembap. Jika ada tanaman yang terinfeksi, ia memilih segera memusnahkannya agar tidak menular ke tanaman lain.
Panen dilakukan saat tanaman memasuki fase dorman, biasanya pada Mei atau Juni. Umbi diambil ketika batang dan daun sudah mati.
Sementara “katak” atau benih akan terlepas dengan sendirinya dari ranting, dan bisa dimanfaatkan untuk penanaman berikutnya.
Bagi Triyono, porang masih menjadi komoditas yang layak dikembangkan. Ia menilai permintaan global terhadap bahan pangan dan industri berbasis porang berpotensi terus tumbuh.
“Kalau harga turun, jangan langsung menyerah. Justru itu bisa jadi momen untuk bertahan dan memperluas tanam,” pesannya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



