TIMES JATIM, MALANG – Potensi produksi garam tunnel di Kabupaten Malang mulai menarik perhatian pemerintah pusat. Hal ini ditandai dengan kunjungan Tenaga Ahli Menteri Pertanian Republik Indonesia yang juga menjabat sebagai Komisaris ID Food (Holding Pangan BUMN), Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., IPU., ASEAN ENG, ke lokasi produksi garam tunnel di Pantai Modangan, Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo, Minggu (4/1/2025) siang.
Kunjungan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pengembangan garam tunnel di Kabupaten Malang dinilai memiliki prospek strategis, khususnya untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan penguatan sektor industri berbasis garam.
Garam tunnel sendiri merupakan sarana produksi garam dengan sistem pengeringan dan pengkristalan air laut menggunakan rangka yang ditutup plastik UV, sehingga menyerupai terowongan.
Metode ini dinilai paling sesuai dengan karakteristik wilayah Kabupaten Malang yang memiliki curah hujan relatif merata sepanjang tahun, sehingga produksi garam tetap bisa berlangsung meski kondisi cuaca kurang mendukung.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Victor Sembiring, mengatakan bahwa perhatian dari Kementerian Pertanian menjadi peluang penting untuk meningkatkan nilai tambah garam tunnel yang dihasilkan petani garam di daerah.
“Saat ini harga garam di tingkat konsumen sekitar Rp2.600 per kilogram. Sementara untuk bahan baku industri atau barang konsumsi, harganya bisa di atas Rp5.000,” ujar Victor, Senin (5/1/2026).
Namun demikian, Victor mengakui masih terdapat kendala utama dalam pengembangan garam tunnel, terutama pada aspek hilirisasi dan pengolahan pascapanen.
“Kendalanya adalah kita butuh hilirisasi atau pengolahan pasca panen. Itu membutuhkan investasi. Sementara kemampuan daerah terbatas, apalagi sekarang banyak anggaran transfer pusat yang terkurangi, sehingga belum menjadi prioritas,” jelasnya.
Menurut Victor, kunjungan Tenaga Ahli Menteri Pertanian tersebut dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Malang untuk menyampaikan kebutuhan akan dukungan investasi, khususnya dalam pembangunan fasilitas pengolahan garam.
“Kemarin kami sampaikan agar bisa dicarikan investasi untuk pasca panennya. Supaya garam bisa diolah menjadi bahan baku industri, bahan baku farmasi, maupun garam konsumsi. Dengan begitu, harga garamnya akan meningkat,” katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Kabupaten Malang saat ini mampu menghasilkan belasan ton garam tunnel per bulan dari puluhan unit tunnel yang tersebar di tiga lokasi pesisir selatan. Lokasi tersebut meliputi Pantai Modangan Desa Sumberoto Kecamatan Donomulyo, Desa Tumpakrejo Kecamatan Gedangan (Pantai Ngantep), serta Desa Sidoasri Kecamatan Sumbermanjing Wetan.
Pantai Modangan menjadi sentra produksi terbesar dengan puluhan unit tunnel yang aktif berproduksi secara rutin. Sementara dua lokasi lainnya masih dalam skala pengembangan.
Dengan dukungan investasi dan penguatan hilirisasi, Pemerintah Kabupaten Malang berharap produksi garam tunnel tidak hanya meningkat dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas dan nilai ekonominya. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani garam sekaligus memperkuat peran Kabupaten Malang sebagai salah satu sentra garam inovatif di Jawa Timur. (*)
| Pewarta | : Achmad Fikyansyah |
| Editor | : Imadudin Muhammad |