TIMES JATIM, BONDOWOSO – Kepala Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Timur, AKBP Arbaridi Jumhur mengungkapkan, pencurian kini mulai bergeser dari sindikat ke perorangan.
Hal itu disampaikan, usai mengikuti doa bersama di Pondok Pesantren Nurut Taqwa, Desa Grujugan, Kecamatan Cermee, Jumat (9/1/2026).
Ia memaparkan sejumlah pengungkapan kasus yang baru-baru ini ditangani timnya di wilayah Jawa Timur.
Menurut Arbaridi, beberapa kasus menonjol yang berhasil diungkap di kawasan Tapalkuda meliputi pencurian kendaraan bermotor, perampasan, pembunuhan, begal, hingga perampokan.
Salah satunya adalah pengungkapan dugaan kasus pembunuhan mahasiswi di Pasuruan, yang dilatarbelakangi persoalan keluarga, persoalan pribadi, serta hutang piutang.
Ia juga menyoroti maraknya curanmor di Bondowoso yang polanya tidak jauh berbeda dengan kota-kota besar lain. Lokasi yang sering menjadi sasaran pelaku antara lain apotek dan pertokoan, ketika pemilik kendaraan memarkir motor dengan terburu-buru.
Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. “Jangan terburu-buru saat memarkir kendaraan. Pelaku biasanya sudah mengamati lokasi yang ramai dan pengunjungnya tergesa-gesa,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebagian besar pelaku curanmor di kawasan Tapalkuda masih berusia muda. Arbaridi menilai, sebagian dari mereka terpengaruh oleh gaya hidup di media sosial yang menampilkan gaya hidup seolah serba menyenangkan.
Sehingga anak muda tersebut lanjut dia, memilih jalan pintas melalui tindakan kriminal. “Motor dijual, bisa langsung dapat jutaan rupiah,” katanya.
Atas kondisi itu, ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih bijak menggunakan media sosial serta memperkuat pendidikan karakter. Menurutnya, pondok pesantren memiliki peran penting sebagai benteng pembinaan moral remaja. “Santri itu beruntung, dari pagi sampai malam hidupnya terarah,” tuturnya. (*)
| Pewarta | : Moh Bahri |
| Editor | : Faizal R Arief |