Foto. Owner Jojo‘s Indonesisches Resto & Bar, Mutik Setianingsih Hinderberger, saat menunjukkan masakan nasi kuning tempong. (FOTO: Jojo for TIMES Indonesia)

Kartini modern, kalimat yang pas untuk Mutik Setianingsih Hinderberger. Perempuan kelahiran Dusun Tegalpare, Desa Ringin Putih, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, ini telah berhasil mengangkat kuliner khas Nusantara, nasi tempong, ke Benua biru, khususnya

TIMES Jatim,Senin 21 April 2025, 18:37 WIB
13.7K
S
Syamsul Arifin

BANYUWANGIKartini modern, kalimat yang pas untuk Mutik Setianingsih Hinderberger. Perempuan kelahiran Dusun Tegalpare, Desa Ringin Putih, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, ini telah berhasil mengangkat kuliner khas Nusantara, nasi tempong, ke Benua biru, khususnya Jerman.

Mutik Setianingsih Hinderberger atau akrab dipanggil Jojo, memulai perjalanan kulinernya dengan mendirikan dapur di sebuah bar miliknya Jojo‘s Indonesisches Resto & Bar di Schulstraße 9, 70173 Stuttgart, Jerman.

Jojo menyadari bahwa tantangan menjalankan bisnis di tanah rantau memerlukan kreativitas dan keberanian untuk mencoba hal baru. Di tengah kondisi bar miliknya yang masih sepi pelanggan, dia melihat peluang untuk memanfaatkan ruang yang ada sebagai dapur kecil.

Pada akhir bulan Desember 2024, dengan keyakinan bahwa cita rasa kuliner Indonesia memiliki potensi besar untuk diterima di Jerman, Jojo mulai menyajikan berbagai hidangan khas yang menjadi pengobat rindu bagi diaspora sekaligus memperkenalkan kelezatan Nusantara kepada masyarakat mancanegara.

Bukan hanya nasi tempong, Jojo’s Indonesisches Resto & Bar juga menyajikan masakan khas Nusantara lainnya, seperti halnya rendang, bakso, mie ayam, ayam geprek, soto, nasi pecel, nasi kuning, dan lainnya.

“Ide awal bikin dapur ya karena saat itu penghasilan dari bar masih terbilang rendah. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat dapur mini di pojok ruangan, siapa tau bisa menambah penghasilan sekaligus memperkenalkan masakah Nusantara ke khalayak luas,” kata Jojo, Senin (21/4/2025).

Menurut Jojo, menjalankan usaha kuliner Indonesia di Jerman bukan tanpa tantangan. Salah satu kesulitan yang dia hadapi adalah keterbatasan bahan baku dan bumbu khas Nusantara, seperti cabai rawit, daun jeruk, ketumbar, dan lainnya.

Meskipun beberapa bumbu tersedia di minimarket Indonesia, terkadang stoknya terbatas atau kualitasnya tidak memenuhi standar yang dibutuhkan.

“Kalau dibilang kendala sebenarnya tidak, lebih tepatnya tantangan sih. Untuk menyiasati itu, saya sering memanfaatkan Jastip (Jasa Titip) dari orang Indonesia yang akan pulang kampung karena saya tidak suka menggunakan bumbu jadi,” ungkap Jojo.

Dalam menyajikan nasi tempong kepada masyarakat Jerman, Jojo memilih untuk tetap mempertahankan keaslian rasa. Sambal pedas yang menjadi ciri khas nasi tempong, tetap dibuat dengan resep tradisional, meskipun dengan beberapa penyesuaian kecil.

“Kalau nasi tempong aslinya kan lauknya pakai ikan asin, telur dadar, atau pakai daging ayam. Nah karena masyarakat Jerman ini kebetulan rata-rata vegetarian, jadinya lauknya saya sesuaikan dengan tahu dan tempe krispi saja,” jelas Jojo.

Keberanian Jojo untuk mengenalkan rasa pedas khas Nasi Tempong di tanah Jerman mendapatkan apresiasi luar biasa. Masyarakat Jerman yang awalnya ragu mencoba hidangan khas Banyuwangi ini, justru terpikat oleh kelezatan sambalnya yang terkenal "menampar" lidah. 

“Saya ini kan orangnya suka bercerita. Jadi setiap kali ada pelanggan yang datang saya ceritakan mengenai makanan yang dipesan. Jadi mereka awalnya tertarik ya karena cerita saya hehehe,” ucapnya dengan nada tertawa.

Tak hanya itu, diaspora Indonesia di Jerman merasa terhubung kembali dengan kampung halaman mereka berkat cita rasa nasi tempong dan masakan khas Indonesia lainnya yang memunculkan nostalgia masa lalu.

“Kepuasan pelanggan bisa dilihat dari bersihnya piring. Kalau piringnya tidak ada sisa berarti mereka (pelanggan) menikmati. Sampai sekarang rata-rata piringnya bersih. Ya, meskipun terkadang ada juga yang masih sisa,” ujar Jojo.

Melalui usaha kulinernya, Mutik menjadi simbol perjuangan perempuan Banyuwangi dalam melestarikan tradisi sekaligus meraih kesuksesan di kancah global. 

Reaksi positif dari masyarakat Jerman dan diaspora Indonesia terhadap nasi tempong menjadi bukti bahwa warisan budaya Indonesia mampu bersinar di mana pun berada. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Syamsul Arifin
|
Editor:Imadudin Muhammad

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Timur, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.