Sambut Hari Wayang Nasional, Sanggar Tari di Ngawi Gelar Wayang Orang Virtual
Salah satu adegan wayang orang dengan lakon Mbangun Taman Maerokoco. (Foto: M.Miftakul/TIMES Indonesia)

Sambut Hari Wayang Nasional, Sanggar Tari di Ngawi Gelar Wayang Orang Virtual

Setiap tanggal 7 November diperingati sebagai Hari Wayang Nasional. Serba-serbi kegiatan dilakukan untuk memeriahkannya.

TIMES Jatim,Sabtu 6 November 2021, 21:44 WIB
31.3K
M
Muhammad Miftakul Falakh

NGAWISetiap tanggal 7 November diperingati sebagai Hari Wayang Nasional. Serba-serbi kegiatan dilakukan untuk memeriahkannya. Seperti di Ngawi, sanggar tari Suryo Budoyo menggelar pentas wayang orang secara virtual untuk menyambut dan memeriahkan peringatan tahunan itu.

Pentas yang digelar di Gedung Fatmawati, Ngawi, mengangkat lakon Mbangun Taman Maerokoco. Mengisahkan usaha Dewi Srikandi membangun ulang taman yang porak poranda akibat serangan orang jahat. Yang menarik, seluruh tokoh dilakonkan anak-anak. Mulai dari usia TK hingga yang sudah remaja.

“Kita memang ingin lebih mengenalkan karakter bangsa Indonesia kepada generasi muda, dengan perantara seni pewayangan," kata Imam Joko Sulistyo pimpinan sanggar tari Suryo Budoyo Ngawi, kepada TIMES Indonesia, Sabtu (6/11/2021).

Joko menjelaskan, lakon Mbangun Taman Maerokoco, relevan dengan kondisi saat ini. Dimana seluruh umat manusia sedang berusaha bangkit kembali, pasca pandemi Covid-19 memporak-porandakan tatanan kehidupan.

article
Imam Joko Sulistyo, pimpinan sanggar tari Suryo Budoyo Ngawi. (Foto: M.Miftakul/TIMES Indonesia)

Secara singkat Imam menceritakan lakon pewayangan yang dipentaskan sanggar miliknya. Cerita dimulai dari taman Maerokoco milik Dewi Srikandi dihancurkan sosok angkara murka, Prabu Jungkung Mardeo dan bala tentaranya.

"Dewi Srikandi kemudian mengadakan sayembara, barang siapa yang bisa membangun ulang taman miliknya, akan menjadi suami Dewi Srikandi," kata Imam.

Pergulatan antara kekuatan baik dan buruk terjadi dalam lakon pewayangan itu. Tokoh protagonis selain Dewi Srikandi, juga ada Janoko, dan Drupada. Untuk yang antagonis Prabu Jungkung Mardeo. Dalam lakon itu, Prabu Jungkung Mardeo diceritakan memiliki sifat arogan dan tukang paksa.

article
Para pemain wayang orang, usai pertunjukan. (Foto: M.Miftakul/TIMES Indonesia)

"Dewi Srikandi sempat kalah, kemudian belajar siasat perang dan memanah kepada Janoko. Kemudian kembali perang, Dewi Srikandi berhasil menang," ujar Imam.

Di Hari Wayang Nasional, Imam berharap kedepan generasi muda bisa lebih mencintai budaya bangsa Indonesia yang Adi luhung. Selain itu juga bisa mengembangkan ketrampilan. "Bisa menjadikan ciri karakter bangsa Indonesia," pungkas Imam pimpinan sanggar tari Suryo Budoyo, Ngawi. (*) 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Muhammad Miftakul Falakh
|
Editor:Deasy Mayasari

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Timur, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.