Sambut Hari Wayang Nasional, Sanggar Tari di Ngawi Gelar Wayang Orang Virtual
Setiap tanggal 7 November diperingati sebagai Hari Wayang Nasional. Serba-serbi kegiatan dilakukan untuk memeriahkannya.
NGAWI – Setiap tanggal 7 November diperingati sebagai Hari Wayang Nasional. Serba-serbi kegiatan dilakukan untuk memeriahkannya. Seperti di Ngawi, sanggar tari Suryo Budoyo menggelar pentas wayang orang secara virtual untuk menyambut dan memeriahkan peringatan tahunan itu.
Pentas yang digelar di Gedung Fatmawati, Ngawi, mengangkat lakon Mbangun Taman Maerokoco. Mengisahkan usaha Dewi Srikandi membangun ulang taman yang porak poranda akibat serangan orang jahat. Yang menarik, seluruh tokoh dilakonkan anak-anak. Mulai dari usia TK hingga yang sudah remaja.
“Kita memang ingin lebih mengenalkan karakter bangsa Indonesia kepada generasi muda, dengan perantara seni pewayangan," kata Imam Joko Sulistyo pimpinan sanggar tari Suryo Budoyo Ngawi, kepada TIMES Indonesia, Sabtu (6/11/2021).
Joko menjelaskan, lakon Mbangun Taman Maerokoco, relevan dengan kondisi saat ini. Dimana seluruh umat manusia sedang berusaha bangkit kembali, pasca pandemi Covid-19 memporak-porandakan tatanan kehidupan.

Secara singkat Imam menceritakan lakon pewayangan yang dipentaskan sanggar miliknya. Cerita dimulai dari taman Maerokoco milik Dewi Srikandi dihancurkan sosok angkara murka, Prabu Jungkung Mardeo dan bala tentaranya.
"Dewi Srikandi kemudian mengadakan sayembara, barang siapa yang bisa membangun ulang taman miliknya, akan menjadi suami Dewi Srikandi," kata Imam.
Pergulatan antara kekuatan baik dan buruk terjadi dalam lakon pewayangan itu. Tokoh protagonis selain Dewi Srikandi, juga ada Janoko, dan Drupada. Untuk yang antagonis Prabu Jungkung Mardeo. Dalam lakon itu, Prabu Jungkung Mardeo diceritakan memiliki sifat arogan dan tukang paksa.

"Dewi Srikandi sempat kalah, kemudian belajar siasat perang dan memanah kepada Janoko. Kemudian kembali perang, Dewi Srikandi berhasil menang," ujar Imam.
Di Hari Wayang Nasional, Imam berharap kedepan generasi muda bisa lebih mencintai budaya bangsa Indonesia yang Adi luhung. Selain itu juga bisa mengembangkan ketrampilan. "Bisa menjadikan ciri karakter bangsa Indonesia," pungkas Imam pimpinan sanggar tari Suryo Budoyo, Ngawi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


