TIMES JATIM, SURABAYA – Hari keempat libur Lebaran Idul Fitri, Kebun Binatang Surabaya (KBS) masih ramai dikunjungi wisatawan lokal, baik dari Surabaya maupun luar kota Surabaya.
Ada perubahan di pintu masuk KBS yang semula tertutup, kini tampak lebih terbuka dan menarik pengunjung.
Antrian di loket tidak terlihat berdesakan, pengunjung bebas memilih loket dari depan maupun kiri pintu masuk. Meski Surabaya diguyur hujan, pengunjung datang silih berganti.
Heru, warga Surabaya, mengaku jika setiap lebaran, dia rutin menganjak rombongan keluarganya mengunjungi KBS.
“Hiburan yang merakyat dan masih terjangkau, tidak perlu wisata yang jauh dari Kota Surabaya. Cukup di sini saja, anak-anak sudah terhibur,” tutur Heru yang sedang antri loket, Kamis (3/4/2025).
KBS kini menawarkan beberapa wahana yang sudah terhitung dalam tarif masuk, pilihan tiket pun bervariasi, mulai dari paket A hingga paket E. Paling mahal di paket A Rp65.000 dan yang paling murah di paket E Rp20.000.
Prasetyo, fotografer keliling KBS sejak 2005 sudah menjalani pekerjaan motret di area seputar KBS, Kamis (3/4/2025).(Foto : Hamida Soetadji/TIMES Indonesia)
“Saya pilih yang paket D Rp30.000 fasilitasnya tiket masuk, animal kids zoo dan animal story,” ujarnya.
Pilihan paket ini menarik pengunjung, berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya dapat tiket masuk saja. Sedangkan untuk menikmati wahana yang ada di dalamnya, pengunjung harus membeli tiket lagi. Tiket yang paling ditinggi Rp65.000. Fasilitasnya berupa tiket masuk, wahana kids zoo, aquarium dan animal edutaiment.
Foto Ikon Suro dan Boyo
Setelah melihat satwa, di pintu keluar pengunjung dapat foto bersama keluarga tepat di depan ikon Kota Surabaya. Foto di lokasi ini disukai pengunjung, terutama wiswatan dari luar Kota Surabaya. Suro dan Boyo adalah lambang Kota Surabaya yang tidak pernah ditinggalkan usai melihat satwa di KBS.
Beberap fotografer tampak standby ketika ada yang menginginkan jasa mereka untuk mengabadikan di depan patung Suro dan Boyo. Para kameramen ini tidak sekadar memotret saja, melainkan juga mengarahkan gaya sehingga foto yang dihasilkan maksimal.
“Kami di sini ada beberap tukang foto, yang siap mengabadikan para pengunjung foto di depan patung Suro dan Boyo,” kata Prasteyo, fotografer keliling di KBS.
Prasetyo yang biasa dipanggil Ambon, dengan serius mengarahkan gaya, mengatur sedemikian rupa. Ia tidak mau asal motret saja.
Menurutnya, hasil foto yang bagus membuat konsumen senang dan momen itu tidak dapat terulang kembali.
Sementara harga foto yang dipatok tidak terlalu mahal juga, dari awal 2005 harga setiap foto masih tetap. Untuk ukuran 5R Rp10.000 dan 10 R Rp20.000.
Pengguna jasa bebas memilih foto mana yang dicetak. Hasil foto tidakk terlalu lama, cukup menunggu 10 menit foto sudah ada di tangan konsumen.(*)
Pewarta | : Lely Yuana |
Editor | : Ferry Agusta Satrio |