Muhammadiyah Kabupaten Malang Gelar Shalat Idul Fitri 20 Maret 2026 di 67 Lokasi
PDM Kabupaten Malang menyiapkan 67 lokasi Shalat Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026. Simak lokasi strategis mulai dari Stadion Kanjuruhan hingga rincian kecamatan lainnya.
MALANG – Warga Muhammadiyah di Kabupaten Malang dipastikan akan melaksanakan Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah pada Jumat (20/3/2026). Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang telah menyiapkan sedikitnya 67 titik lokasi pelaksanaan Shalat Id yang tersebar di berbagai kecamatan.
Berdasarkan data Majelis Tabligh PDM Kabupaten Malang, seluruh lokasi tersebut telah dilengkapi dengan jadwal khatib serta imam shalat. Konsentrasi lokasi terbanyak berada di wilayah Kecamatan Turen, Dau, Lawang, Pagelaran, dan Kepanjen.
Rinciannya, Kecamatan Dau dan Turen masing-masing menyiapkan 8 titik lokasi, disusul Lawang dengan 6 lokasi, serta Pagelaran dan Kepanjen yang masing-masing menyediakan 4 lokasi.
Salah satu titik utama di wilayah Kepanjen akan dipusatkan di halaman parkir Stadion Kanjuruhan. Sementara tiga lokasi lainnya di Kepanjen menempati area masjid milik jamaah Muhammadiyah setempat.
Implementasi Kalender Hijriah Global Tunggal
Ketua PDM Kabupaten Malang, M. Nurul Humaidi menjelaskan, penetapan 1 Syawal pada 20 Maret 2026 ini merujuk pada Maklumat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Nomor 2/MLM/1.0/E/2025 yang dirilis di Yogyakarta pada 22 September 2025.
Keputusan tersebut didasarkan pada metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Humaidi menekankan bahwa mulai tahun 1447 Hijriah ini, Muhammadiyah resmi memberlakukan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
"Muhammadiyah kini memberlakukan KHGT dengan prinsip satu tanggal satu hari di seluruh dunia. Ini merupakan hasil Musyawarah Nasional Tarjih Muhammadiyah di Pekalongan tahun 2024," jelas Humaidi kepada TIMES Indonesia, Kamis (19/3/2026).
Pesan Kebersamaan di Tengah Perbedaan
Akademisi FAI Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mengajak umat Islam untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum kemenangan dalam menahan hawa nafsu selama Ramadan. Menurutnya, latihan spiritual selama sebulan penuh harus menjadi modal dalam menjalani kehidupan pascalibur Lebaran.
Terkait potensi perbedaan waktu hari raya dengan organisasi atau pihak lain, Humaidi mengimbau agar semua pihak tetap mengedepankan sikap saling menghormati.
"Potensi perbedaan penetapan hari raya tetap ada karena perbedaan metode. Jika muncul perbedaan, hendaknya kita saling menghormati. Namun, jika ternyata serentak, tentu itu akan lebih indah," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

