Mahasiswa UM Gresik Rancang Alat Penyebar Pupuk Daur Ulang untuk Petani
Alat penyebar pupuk padat berbasis bahan daur ulang inovasi mahasiswa UM Gresik bisa mengurangi risiko kelelahan dan cedera otot petani.
GRESIK – Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Universitas Muhammadiyah atau UM Gresik menghadirkan inovasi sederhana namun berdampak nyata bagi petani di Desa Randegan, Mojokerto.
Berangkat dari hasil observasi lapangan, mereka menciptakan alat penyebar pupuk padat berbasis bahan daur ulang untuk menjawab keluhan fisik yang kerap dialami petani saat proses pemupukan.
Ketua kelompok PKM, M Daffa Eka Dharmawan, menjelaskan bahwa ide tersebut muncul setelah tim melihat langsung aktivitas petani di sawah.
Selama ini, kata dia penyebaran pupuk padat masih dilakukan secara manual dengan cara membungkuk, mengangkat beban, dan berjalan menyusuri lahan dalam waktu lama.
“Banyak petani mengeluhkan nyeri di bagian punggung, bahu, hingga tangan karena harus mengayunkan pupuk secara berulang. Dari situ kami mencoba merancang alat yang lebih ergonomis dan mudah digunakan,” ujarnya di Gresik pada Jumat (20/2/2025).
Dikatakan Daffa, Desa Randegan sendiri dikenal sebagai wilayah agraris dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani.
Komoditas utama yang dibudidayakan antara lain padi, cabai, dan jagung. Alat yang dirancang ini memanfaatkan barang-barang bekas yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan.
"Konsepnya sederhana namun fungsional, dilengkapi tabung penampung pupuk dan mekanisme penyebaran yang membantu distribusi pupuk lebih merata," katanya.

Dengan alat tersebut, petani tidak perlu lagi terlalu sering membungkuk atau mengayunkan tangan secara berulang. Selain mengurangi risiko kelelahan dan cedera otot. "Proses pemupukan juga menjadi lebih cepat dan efisien," terangnya.
Sebagai bentuk implementasi program, mahasiswa melakukan sosialisasi langsung kepada para petani di Desa Randegan. Kegiatan itu meliputi penjelasan cara pembuatan alat, demonstrasi penggunaan, hingga diskusi terbuka untuk menerima masukan dari petani.
Hasil Uji Coba
Uji coba lapangan bersama petani cabai pun telah dilakukan. Hasilnya, alat penyebar pupuk berbasis daur ulang tersebut dinilai mampu mempermudah pekerjaan dan mempercepat waktu pemupukan dibanding metode manual.
Respons petani terhadap inovasi ini tergolong positif. Selain membantu meringankan beban fisik, alat tersebut juga dapat dibuat dengan biaya terjangkau dan direplikasi secara mandiri.
Melalui inovasi sederhana ini, mahasiswa PKM UM Gresik berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kenyamanan kerja sekaligus produktivitas petani di Desa Randegan, Mojokerto. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




