Kopi TIMES

Kebenaran Firasat Sayyidina Utsman

Senin, 16 Oktober 2023 - 14:36
Kebenaran Firasat Sayyidina Utsman Alfan Jamil, Dosen Kajian Fiqh Ulama Nusantara di Ma'had Aly Nurul Jadid dan pengajar di PP. Darul Lughah Wal Karomah Kraksaan.

TIMES JATIM, PROBOLINGGO – Firasat (Firosah) merupakan suatu term yang sudah masyhur di kalangan masyarakat kita. Tak sedikit orang ketika merasakan sesuatu yang kurang mengenakkan dalam hatinya dan menyebutnya dengan istilah firasat. Sebetulnya apa definisi firasat sebenarnya?. 

Kata firasat pernah disinggung oleh baginda Nabi Muhammad Saw dalam haditsnya yang artinya “Takutlah kalian akan firasatnya orang mukmin. Karena sesungguhnya dia memandang dengan cahaya Allah SWT”.

Sedangkan dalam meninjau definisi firasat, Imam al-Munawi dalam kitabnya yang berjudul Faidh al-Qodir juz 1 hal 185 menyatakan “Firasat adalah mengetahui terhadap perkara yang tersimpan dalam hati atau bathin”.

Selain Imam al-Munawi ada juga sebagian ulama mengatakan bahwa firasat adalah tersingkapnya keyakinan dan terlihatnya sesuatu yang ghaib. Berbeda dengan al-Imam Ibnu Raghib, beliau memaknai firasat adalah mengambil petunjuk (Istidlal) dengan melihat kondisi seseorang. Bentuknya, warnanya dan juga perkataannya atas ketinggian akhlaqnya, keutamaannya maupun kehinaan yang ada pada dirinya. 

Charles M. Yablon dalam jurnalnya yang berjudul Justifying the judges Hunch: An Essay on Disrection mengutip perkataan Hutcheson, mendefinisikan firasat sebagai “The Hunch, that intuitive flash of understanding which makes the jump spark connection between question and decision”. Menurutnya firasat merupakan cahaya intuisi (gerak hati atau batin) akan sebuah pemahaman yang dapat mempercepat koneksi antara pertanyaan dan keputusan.

Terlepas dari definisi firasat yang sangat kompleks dan variatif di atas. Kita harus meyakini bahwa pandangan dan firasat seorang wali itu adalah suatu bentuk kebenaran dan benar adanya. Karena tak semua orang bisa menggapai kebenaran atau kesahihan firasat mengingat syarat yang ada cukup ketat. 

Dalam kitabnya Faidh al-Qodir juz 1 hal 186, Imam al-Munawi menyebutkan kriteria atau syarat tercapainya kebenaran firasat seseorang dengan mengutip sebagian pendapat Ulama. Pertama, senantiasa menjaga pandangan dari perkara haram. Kedua, menahan diri dari syahwat (keinginan nafsu).

Ketiga, memakmurkan bathin dengan muraqabah (merasa selalu dilihat dan diawasi oleh Allah SWT) dan yang keempat, senantiasa mengkonsumsi makanan yang halal. 

“Barangsiapa telah menjaga pandangannya dari perkara haram, menahan dirinya dari syahwat, senantiasa memakmurkan batinnya dengan muroqobah dan senantiasa mengkonsumsi makanan yang halal, maka firasatnya tidak akan keliru”.

Hal yang tak bisa kita pungkiri bahwa ada sebagian orang yang menyangsikan akan kebenaran firasat yang terjadi pada seorang wali dengan alasan yang beragam. Adakalanya mereka tidak mempercayai akan adanya karomah pada seorang wali. Bahkan sebagian dari mereka tidak percaya keberadaan seorang wali Allah Swt. 

Anggapan semacam ini tentu tidak benar. Karena sebagian bukti kebenaran firasat sudah termaktub dalam al-Qur’an yang artinya “Dan andaikan Kami kehendaki, niscaya kami perlihatkan mereka kepadamu (Muhammad SAW). Sehingga engkau benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya, dan engkau sungguh akan mengenal mereka dari kiasan perkataan mereka dan Allah Maha Mengetahui perbuatan mu". 

Ayat di atas menjadi penegas. Bahwa ketika Allah Swt menghendaki untuk memperlihatkan sesuatu yang samar kepada hambanya. Maka niscaya sesuatu yang samar tersebut akan menjadi tampak jelas tentunya dengan kriteria yang sudah tertulis pada alinea di atas. Sebagaimana Rasulullah SAW diperlihatkan oleh Allah akan keadaan orang munafik dengan sebuah tanda kegelapan yang ada pada wajahnya.

Demikian pula ditegaskan dalam Kitab Tafsir al-Alusi karya al-Imam al-Alusi al-Baghdadi bahwa seorang mukmin memandang dengan pandangan Firasat dan orang Arif memandang dengan pandangan hakikat sedangkan Nabi Muhammad SAW memandang dengan pandangan Allah Swt.

Syaikh Mahfudz at-Tarmasi dalam kitabnya yang berjudul Bughyat al-Adzkiya fii al-Bahtsi an karomat al-Awliya mencuplik sebuah kisah menarik perihal kebenaran firasat wali Allah Swt. Seperti yang terjadi pada Sayyidina Utsman ra. Suatu ketika ada seorang laki-laki menghadap kepada Sayyidina Utsman ra yang sewaktu dalam perjalanan. Laki-laki tersebut bertemu dengan seorang perempuan yang berparas cantik sehingga kejadian tersebut selalu membayang-bayangi pikirannya.

Sesampainya di hadapan Sayyidina Utsman Beliau langsung berkata “ada salah seorang diantara kalian yang masuk kerumah ini dan pada kedua matanya tampak bekas dari perzinahan. Sontak kemudian si laki-laki bertanya. Apakah ada wahyu yang turun sesudah Rasulullah Saw?

Lalu Sayyiduna Utsman menjawab. Tidak. Melainkan ini adalah Firasat. Dalam menanggapi peristiwa ini, Syaikh Mahfudz at-Tarmasi memberikan sebuah uraian bahwa tujuan Sayyidina Utsman ra menampakkan firasatnya tersebut tak lain adalah sebagai Ta’dib (mendidik atau mengajarkan adab) sekaligus larangan dan peringatan bagi laki-laki tersebut untuk meninggalkan perbuatan jeleknya.

Penting kita ketahui bahwa ketika hati seseorang telah bersih dan jernih dari segala macam kotoran hati. Maka pandangannya tak lain adalah pandangan dengan cahaya Allah yang sudah barang tentu lebih tajam dari pandangan dzahir. Sebagaimana ungkapan KH. Moh. Zuhri Zaini, Pengasuh PP. Nurul Jadid "Ketajaman penglihatan mata hati melebihi penglihatan mata dzahir".

***

*) Oleh : Alfan Jamil (Dosen Kajian Fiqh Ulama Nusantara di Ma'had Aly Nurul Jadid  dan pengajar di PP. Darul Lughah Wal Karomah Kraksaan)

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Pewarta :
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.