Kopi TIMES

Pena: Saksi Bisu Sang Jurnalis dalam Perawan Desa

Kamis, 12 Oktober 2023 - 10:41
Pena: Saksi Bisu Sang Jurnalis dalam Perawan Desa Ratnawati, S.Pd, Pengajar Sejarah SMAN 1 Malang.

TIMES JATIM, MALANG – Hal yang menarik perhatian ketika penulis hendak mengkaji roman Perawan Desa karya W.R. Soepratman. Roman ini mengisahkan Sitti Adminah seorang gadis dusun. Ia tercerabut dari akar budayanya setelah mendapat pendidikan dan bergaul dalam lingkungan orang-orang Eropa.

Di mana kala itu Sitti Adminah hidup pada masa Kolonialisme. Setelah tamat dari HBS di Batavia, Sitti berencana besar untuk masa depannya. Rencana itu amburadul karena tertipu seorang lelaki muda Belanda. 

Terlebih, W.R. Supratman mengekspresikan kritik keras terhadap kolonialisme itu pun telah membuka mata dunia tentang penindasan, diskriminasi, dan segregasi sosial. Novel roman ini juga mengandung kritik keras terhadap praktik korupsi yang menyengsarakan orang-orang kecil. Kemudian novel roman ini dibredel karena terang-terangan melontarkan gagasan tentang persatuan bangsa terjajah dan cita-cita merdeka.

Buku roman Perawan Desa kemudian disita oleh aparat keamanan pemerintah kolonial Belanda. Buku-buku yang baru selesai dicetak dilarang keras beredar di pasaran. Bagi pemerintah kolonial Belanda di bumi Nusantara masa itu dianggap mengganggu ketertiban dan keamanan yang bisa mengancam kedudukan Belanda di Nusantara.

Menurut hemat penulis dalam telaah ini, maka Sitti Adminah adalah sosok yang “menghidupkan” lagi semangat zaman yang diusung W.R. Supratman dalam novel Perawan Desa tersebut, Misi penerbitan lagi Perawan Desa bukan sekadar aspek kesejarahan. Tetapi juga untuk mengenal lebih dalam W.R. Supratman yang bukan hanya seorang komponis yang selama ini kita kenal, tetapi juga jurnalis hebat, dan penulis secara lebih komprehensif.

Peneliti di Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI), Razif, dalam pengantar novel Perawan Desa terbitan Penerbit Sinar Hidoep menjelaskan bagian utama novel Perawan Desa adalah narasi sosial tentang superioritas ras dalam sistem kolonial di negeri jajahan.

Tokoh Van Stelen alias Raden Soebagijo yang berdarah Eropa dikisahkan bisa dengan mudah membawa kabur uang dalam jumlah besar serta mengelabui perempuan dan perawan desa seperti Sitti Adminah. Warga bumiputra tidak bisa bergaya hidup seperti Soebagijo yang sepanjang hidupnya hanya berfoya-foya, menikmati hak-hak istimewa dari sistem kolonial. Narasi superioitas ras juga dimunculkan W.R. Supratman dalam insiden yang terjadi di antara dua orang penumpang kereta api.

Seorang Belanda yang datang terlambat dan tidak mendapatkan tempat duduk menuduh seorang bumiputra menyerobot haknya. Sesungguhnya yang terjadi saat itu adalah sang bumi putra itu sejak awal keberangkatan kereta telah duduk di bangku itu.

Sang Belanda yang merasa punya derajat lebih tinggi dengan sewenang-wenang ingin mengusir sang bumiputra tersebut. Sang Belanda itu juga mengeluarkan kata-kata rasis untuk menyerang lawan bicaranya. Ternyata sang bumiputra itu tidak diam saja. Dia melawan dengan sengit kesewenang-wenangan orang Belanda itu. Iapun bersikeras mempertahankan tempat duduknya.

Pertengkaran keduanya berakhir ketika dilerai oleh kondektur kereta. W.R. Supratman dengan sangat realistis menyuguhkan gambaran konflik yang plural terjadi saat itu. Konflik antara kaum penjajah dengan kaum terjajah. Konflik itu merupakan contoh ketimpangan kolonialisme yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Itu adalah wujud superioritas ras yang menjadi ingatan W.R. Supratman. Novel ini, menurut Razif, juga menggambarkan dengan nyata ketimpangan sosial budaya antara kota dan desa. Sitti Adminah, sebagai tokoh utama, yang terbiasa dengan lingkungan pergaulan bersama orang-orang Eropa, menjadi silau dengan gaya hidup kota kolonial di Batavia dan Bogor.

Ia juga mengikuti gaya hidup metropolis era itu yang dibawa oleh orang-orang Eropa, khususnya orang-orang Belanda. Ia tercerabut dari akar budayanya sendiri. Dia yang lahir dan tumbuh di desa justru merasa bosan dengan kehidupan masyarakat perdesaan.

Razif menjelaskan roman Perawan Desa karya W.R. Supratman senapas dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Di dalamnya mengandung semangat antikolonialisme, yakni semangat menyelamatkan semuanya: rakyat, laut, serta tanah yang meliputi pulau, hutan, sungai, air, hasil tambang, dan lain-lain. 

Ini selaras dengan perjuangan nasionalisme Indonesia yang bersifat membebaskan rakyat dari exploitation de l’homme par l’homme, penindasan manusia oleh manusia.

Sekiranya penulis dapat merangkum roman Perawan Desa dalam perjalanan kisah Sitti adminah  melalui catatan  pena Sang Jurnalis “W.R. Soepratman” kiranya roman terebut sebagai saksi bisu, maka  politik kekuasaan dengan propaganda  narasi sosial tentang superioritas ras dalam sistem kolonial yang disampaikan Razif di atas terbukti kejadiannya. 

Sitti Adminah pun selalu dihantui oleh propaganda superioritas yang menyengsarakan, bahkan Sitti pun jadi korban atas propaganda itu. Jika sebuah bangsa tercerabut dari akarnya maka bersiaplah bangsa itu akan menunggu kematian. 

Perjalanan hidup nikmat sesaat bagi Sitti yang seakan manis berujung pahit.  Sitti harus kehilangan identitas. Ini lebih nestapa dari pada kisah Minke dan Annalies, dalam film Bumi Manusia yang diangkat dari novel Pramoedya Ananta Toer. 

Film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo dari kisah cinta antara Minke dan Annelies, Minke terketuk hatinya melihat Nyai Ontosoroh (Ibunya atau Indo Belanda) yang berjuang demi penegakan hak akan diri pribadinya dan bangsanya. 

Sebagai generasi yang yang hidup di era sekarang patut kiranya  meneladani semangat yang diusung oleh W.R Soepratman, yang sanggup memperjuangkan nasibnya keluar dari penjajahan pikiran, penjajahan kebebasan, dan sekaligus selalu berani mengungkapkan pendapatnya secara bebas dan terbuka seperti yang diamanatkan dalam setiap guratan pena Sang Jurnalis. 

***

*) Oleh: Ratnawati, S.Pd, Pengajar Sejarah SMAN 1 Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Pewarta :
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.