Kopi TIMES

Menyambut Pemilu 2024: Refleksi atas Pilpres 2019

Sabtu, 14 Oktober 2023 - 14:37
Menyambut Pemilu 2024: Refleksi atas Pilpres 2019 Indah Sari Rahmaini, Dosen Sosiologi Universitas Andalas.

TIMES JATIM, SUMATERA – Pada tahun 2019, saya menemukan salah satu artikel menarik yang berjudul, "Pilpres 2019: it's not the economy, stupid!". Tulisan ini ditulis melalui blog pribadi dan menggelitik saya untuk melakukan refleksi terhadap rekam jejak pemilu yang telah diadakan 5 tahun yang lalu hingga sekarang kita kembali menyambut pesta demokrasi kembali pada tahun 2024 mendatang. 

Berkaitan dengan judul yang ditulis. Artikel ini ingin menekankan bahwa bukan isu ekonomi sebagai pengaruh utama dari pemilihan presiden 2019. Pada paragraf pertama artikel, penulis menawarkan tiga isu utama yang diprediksi menjadi isu yang paling berpengaruh yakni agama, pemilih muda, dan ekonomi. 

Populisme agama menjadi isu politik identitas yang kerap kali muncul berawal dari pemilukada Jakarta dan aksi 212. Ditambah dengan data survei yang membuktikan bahwa 15% masyarakat Indonesia setuju dengan penerapan ideologi politik Islam di Indonesia. 

Pemilih muda menjadi posisi sentral dalam pemilu 2019 dengan bonus demografi yang sedang didapat oleh Indonesia. Hal ini terbukti dengan 48% penduduk Indonesia didominasi oleh penduduk berusia 20-38 tahun. Sedangkan isu ekonomi masih dipersoalkan karena rendahnya kinerja pemerintah dalam menangani seputar masalah kesenjangan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan.

Isu tersebut tercermin jelas dari performa masing-masing kandidat dalam kontestasi politik baik dari KH Ma’ruf Amin sebagai pemuka agama yang memiliki power dalam memperkuat keislaman hingga Sandiaga Uno dengan sosok yang berjiwa muda dan berlatar belakang pengusaha. Dari ketiga isu yang diangkat oleh penulis, hanya dua isu yang kemudian dilakukan uji statistik sebagai salah satu strategi untuk menunjukkan korelasi antar kedua isu dengan pilpres. 

Isu pemuda hanya dideskripsikan secara kualitatif dengan menyatakan terjadi pertarungan yang ketat antara kedua pasangan kandidat. Hasil survei yang dilakukan oleh Alvara Research Center selama 4 bulan menunjukkan bahwa Joko Widodo- Ma’aruf Amin semakin tinggi di kelompok pemilih usia dewasa dan tua.

Isu Ekonomi

Untuk melihat korelasi antara hasil suara Jok Widodo-Ma’aruf Amin dalam pilpres, penulis menggunakan gini rasio, persentase penduduk miskin, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai indikator untuk mengukur aspek ekonomi. Indikator tersebut diuji menggunakan analisis statistik regresi linear sederhana untuk melihat korelasi pada masing-masing variabel. 

Indikator gini ratio memperoleh nilai korelasi 0.18 dengan R2  sebesar 0.025, rasio kesenjangan ekonomi bernilai korelasi 0.22 dan R2 hanya 0.018. Sedangkan IPM hanya memiliki nilai korelasi 0.19 dengan R2 0.030. 

Dari pemaparan diatas bisa kita simpulkan bahwa ekonomi hanya memberikan korelasi 0.18 hingga 0.22 saja serta hanya sekitar 1,8-3% secara simultan aspek ekonomi dapat menjelaskan kemenangan suara Joko Widodo dan Ma’aruf Amin pada pilpres 2019. Hal ini bermakna bahwa ada variabel lain yang bisa menjelaskan kemenangan suara Joko Widodo dan Ma’aruf Amin. 

Populisme Agama

Penulis menganalisis isu populisme agama sebagai prediksi selanjutnya dengan menggunakan pendekatan presentasi jumlah penduduk muslim di setiap provinsi. Hasil korelasinya adalah -0.69 dengan uji regresi linear sederhana memiliki R2 sebesar 0.047. 

Artinya, semakin tinggi jumlah penduduk muslim, semakin kecil kemungkinan Jokowi untuk dipilih sebagai presiden dengan 47% secara simultan presentase penduduk muslim dapat menjelaskan hasil suara Joko Widodo-Ma’aruf Amin. Begitupun jika diuji dengan hasil suara Joko Widod-Jusuf Kalla pada pilpres 2014, nilai korelasinya sebesar -0.37 dengan R2 yang cukup tinggi yaitu 0.36. 

Data diatas menunjukkan bahwa faktor agama menjadi isu yang semakin penting pada pilpres 2019 jika dibandingkan dengan pilpres sebelumnya untuk keterpilihan menjadi pemenang pilpres. Hasil pilpres secara garis besar juga menunjukkan bahwa adanya divergensi wilayah secara signifikan dalam hal pilihan politik masyarakat. 

Penulis mengakhiri tulisan dengan himbauan kepada pembaca dan pemerintah untuk menuntaskan pertarungan politik berbasis ideologi dengan baik karena hal tersebut tentu tidaklah mudah untuk diselesaikan. Artikel ini sangat memudahkan pembaca dari berbagai bidang untuk memahami apa yang ingin disampaikan bahwa ada faktor tertentu yang berpengaruh kuat terhadap pesta demokrasi tahun 2019, yakni populisme agama. 

Penulis juga menunjukkan data baik melalui survei maupun scatter plot guna mendeskripsikan secara komprehensif mengenai bukti kuatnya pengaruh agama pada pilpres, didukung oleh isu lainnya. Penulis juga dengan sangat baik menyimpulkan hasil analisisnya dengan mengajak pembaca untuk ikut mengawal pertarungan politik berbasis ideologi agar tidak menjadi pemecah belah bangsa. 

Namun, artikel ini masih memiliki beberapa kekurangan. Komposisi antara data pemilih muda tidak dijelaskan secara gambling seperti dua isu lainnya. Penulis seyogyanya juga bisa menampilkan bagaimana korelasi antara pemilih muda dengan hasil suara Joko Widodo- Ma’aruf Amin. 

Data tersebut berharap bisa melihat seberapa persen pemilih muda bisa menjelaskan hasil suara dari kandidat, apakah lebih besar dari ekonomi dan agama, ataupun sebaliknya. Untuk menunjukkan populisme agama juga seharusnya tidak mengkategorikan agama Islam islam secara general. 

Orientasi Islam baik Nahdlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah juga menjadi pendekatan yang secara siginifikan mempengaruhi  pilihan politik masyarakat, tidak hanya dengan melihat presentasi jumlah penduduk muslim di Indonesia. 

***

*) Oleh: Indah Sari Rahmaini, Dosen Sosiologi Universitas Andalas.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Pewarta :
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.