Dokter Saraf Ungkap Beda Lupa Normal dan Demensia
TIMES Jatim/Ilustrasi Orang lupa. (FOTO: Freepik)

Dokter Saraf Ungkap Beda Lupa Normal dan Demensia

Dokter spesialis saraf Maria Ardelia Purwaningrum menjelaskan perbedaan lupa normal dan demensia. Masyarakat diimbau waspada jika gangguan ingatan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

TIMES Jatim,Minggu 18 Januari 2026, 06:05 WIB
217.8K
W
Wandi Ruswannur

JAKARTABanyak orang sering merasa khawatir saat tiba-tiba lupa menaruh kunci motor atau tidak sengaja melewatkan janji temu yang sudah dijadwalkan jauh hari. Hal itu memicu pertanyaan besar mengenai garis pembatas antara kondisi lupa yang masih dalam tahap wajar dengan gangguan kesehatan serius seperti demensia atau yang akrab disebut pikun. 

Maria Ardelia Purwaningrum yang merupakan seorang dokter spesialis saraf memberikan penjelasan mendalam mengenai perbedaan signifikan di antara keduanya agar masyarakat lebih waspada.

Ia menjelaskan bahwa lupa yang masih masuk kategori normal biasanya bersifat sementara dan tidak mengganggu produktivitas seseorang. Contohnya ketika seseorang sesekali lupa nama rekan kerja namun berhasil mengingatnya kembali beberapa saat kemudian atau masih mampu menelusuri jejak keberadaan barang yang hilang. 

Dalam kondisi tersebut, fungsi kemandirian dalam beraktivitas sehari-hari tetap terjaga dengan baik tanpa adanya perubahan kepribadian yang drastis serta individu tersebut masih memiliki kesadaran penuh terhadap momen lupanya.

Melansir dari akun media sosial Instagram @ardelia711 bahwa tanda-tanda yang mengarah pada demensia jauh lebih mengkhawatirkan karena sifatnya yang progresif atau terus memburuk seiring berjalannya waktu. 

Gejala itu mencakup ketidakmampuan mengingat kejadian penting meski sudah diberikan petunjuk sering menaruh benda di tempat yang sangat tidak lazim hingga mengalami kesulitan dalam mengatur keuangan atau tersesat di rute jalan yang seharusnya sudah dikenal. 

"Selain masalah ingatan penderita demensia juga sering menunjukkan perubahan emosi seperti mudah marah merasa curiga tanpa alasan yang jelas serta mengalami gangguan bahasa saat mencari kata-kata," unggahnya dikutip TIMES Indonesia, Sabtu (17/1/2026).

Melalui unggahan tersebut, sekaligus Fan Favourite Miss Universe Indonesia 2024 itu menekankan pentingnya melakukan evaluasi lebih lanjut ke dokter spesialis neurologi apabila keluhan lupa mulai mengganggu aktivitas sosial maupun pekerjaan. 

Pencegahan sejak dini dapat dilakukan dengan cara mengenali faktor risiko menjaga asupan nutrisi yang cukup bagi otak serta rutin melatih kemampuan kognitif sedini mungkin. 

"Dengan memahami perbedaan ini masyarakat diharapkan tidak lagi menganggap remeh gejala pikun yang berat dan segera mencari pertolongan medis sebelum kondisi semakin parah," ujarnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Wandi Ruswannur
|
Editor:Ferry Agusta Satrio

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Timur, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.