Angka Kesuburan Menurun, Puluhan Ribu Pasangan di Malang Butuh Bantuan Program Hamil
Persoalan infertilitas atau gangguan kesuburan ternyata menjadi ancaman serius bagi ribuan pasangan usia subur di Malang Raya.
Malang – Persoalan infertilitas atau gangguan kesuburan ternyata menjadi ancaman serius bagi ribuan pasangan usia subur di Malang Raya. Kondisi tersebut terungkap dalam edukasi eksklusif bertema Mengungkap Penyebab Kegagalan Dalam Program Hamil.
Para dokter spesialis fertilitas mengungkap bahwa tren pasangan yang kesulitan memiliki anak terus meningkat, dipicu perubahan gaya hidup modern hingga penundaan usia menikah dan kehamilan.
Prof. Dr. dr. Budi Santoso, Sp.OG, Subsp.FER menyebut, jumlah pasangan usia subur di wilayah Malang Raya diperkirakan mencapai sekitar 450 ribu pasangan. Dari jumlah itu, sekitar 10 hingga 12 persen mengalami gangguan infertilitas.
“Kalau angka infertilitas itu 10 sampai 12 persen, maka ada sekitar 22 ribu sampai 36 ribu pasangan usia subur yang memerlukan bantuan supaya hamil,” ujar Prof Budi, Senin (25/5/2026) dalam diskusi yang digelar PT Morula IVF Indonesia.
Menurut Prof. Budi, masih banyak pasangan yang belum memahami pentingnya penanganan gangguan kesuburan sejak dini. Padahal, penanganan infertilitas tidak selalu langsung melalui program bayi tabung, melainkan dilakukan bertahap sesuai kondisi pasien.
Mulai dari pengaturan masa subur dan waktu hubungan suami istri, terapi obat, tindakan laparoskopi, inseminasi, hingga program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF).
“Kami hadir dari Morula untuk memberikan solusi sekaligus pencerahan bagaimana penanganan masalah kesuburan itu dilakukan,” ungkapnya.
Ia juga menilai Malang memiliki potensi besar untuk pengembangan layanan fertilitas karena tingginya kebutuhan masyarakat terhadap penanganan infertilitas. Bahkan hingga kini, Kota Malang disebut belum memiliki pusat layanan bayi tabung sendiri.
“Jumlah masalah infertilitas cukup banyak, dan di Malang belum ada. Mudah-mudahan ke depan Malang yang sudah cukup besar ini bisa memiliki pusat bayi tabung,” ucapnya.
Sementara itu, dr. Benediktus Arifin, MPH., Sp.OG(K), FICS, FIICOG, FESICOG mengungkapkan antusiasme masyarakat terhadap edukasi fertilitas terus meningkat. Tahun 2026 ini, jumlah peserta melonjak hampir dua kali lipat dibanding pelaksanaan sebelumnya.
“Pesertanya hampir dua kali lipat. Bahkan melebihi kuota yang ada. Di kegiatan hari ini ada 125 pasangan yang ikut,” tutur Arifin.
Menurutnya, salah satu tantangan saat ini adalah berubahnya pola pikir sebagian pasangan muda yang menunda memiliki anak karena faktor pendidikan, karier, hingga ekonomi. Di sisi lain, angka Total Fertility Rate (TFR) di Kota Malang justru terus menurun.
“TFR di Malang sekitar 1,8 sampai 1,9. Artinya rata-rata pasangan memiliki anak kurang dari dua. Ini menunjukkan semakin banyak orang yang mengalami kesulitan untuk memiliki anak,” katanya.
Ia menjelaskan, gaya hidup modern turut memengaruhi tingkat kesuburan pasangan. Faktor nutrisi, stres, keputusan menunda pernikahan maupun kehamilan hingga usia yang semakin bertambah menjadi penyebab utama menurunnya fertilitas pria dan wanita.
“Lifestyle, nutrisi, pendidikan, ekonomi, sampai keputusan menunda memiliki anak juga berpengaruh. Padahal semakin bertambah usia wanita maupun pria, angka fertilitas juga akan semakin menurun,” tandasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

