Dokter RSUI Ungkap Beda Gagal Ginjal Akut dan Kronis, Mulai dari Dehidrasi hingga Hipertensi
Ilustrasi - Gagal ginjal akut. (Foto: ANTARA/Handout/am.)

Dokter RSUI Ungkap Beda Gagal Ginjal Akut dan Kronis, Mulai dari Dehidrasi hingga Hipertensi

Dokter spesialis penyakit dalam RSUI membeberkan faktor pemicu gagal ginjal akut dan kronis, mulai dari dehidrasi, infeksi, hingga komplikasi hipertensi.

TIMES Jatim,Selasa 23 Juni 2026, 04:50 WIB
21
A
Antara

JAKARTADokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Anindia Larasati, Sp.PD, FINASIM, menyampaikan bahwa gangguan gagal ginjal sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor penyebab, mulai dari dehidrasi hingga komplikasi penyakit lain seperti hipertensi dan diabetes.

Anindia menjelaskan, penyakit gagal ginjal secara umum terbagi menjadi dua klasifikasi. Pertama adalah gagal ginjal akut, yang biasanya dipicu oleh faktor pencetus jangka pendek seperti dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh.

“Seperti misalkan ada infeksi, dehidrasi kekurangan cairan yang berat. Kalau kita atasi faktor penyebabnya, kita harapkan fungsi ginjal dapat kembali seperti semula,” kata Anindia kepada ANTARA di Jakarta, Senin (22/6/2026).

Kedua adalah gagal ginjal kronis. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh faktor yang telah berjalan lama, bahkan bisa mencapai puluhan tahun. Hal ini umumnya diawali dari penerapan gaya hidup yang tidak sehat sehingga memicu munculnya penyakit penyerta lain, seperti diabetes melitus hingga hipertensi.

“Hipertensi yang lama dan tidak terkontrol lama-lama mengganggu fungsi ginjal, menyebabkan komplikasi ke ginjal hingga akhirnya menyebabkan penyakit ginjal kronis,” ujar Anindia.

Berdasarkan data dari laman Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, gagal ginjal akut merupakan kerusakan ginjal yang terjadi secara tiba-tiba dalam hitungan hari. Sebaliknya, gagal ginjal kronis adalah kondisi ketika organ ginjal telah mengalami kerusakan parah dalam jangka waktu lama, atau telah berlangsung lebih dari tiga bulan.

Anindia menambahkan, apabila faktor penyebab yang mencetuskan gangguan fungsi ginjal—seperti dehidrasi maupun infeksi—masih bisa ditangani secara cepat, maka pasien kemungkinan besar tidak perlu menjalani prosedur hemodialisis atau cuci darah secara berkelanjutan.

Namun, kondisi berbeda terjadi pada pasien gagal ginjal kronis. Jika penurunan fungsi ginjal diakibatkan oleh faktor menahun seperti hipertensi maupun diabetes melitus yang merusak organ secara perlahan, maka pasien akan membutuhkan tindakan hemodialisis secara berkepanjangan.

“Kalau pada gagal ginjal akut, mungkin dia ada penyebab khusus yang membuat gangguan fungsi ginjal, penurunan fungsi ginjal sementara. Namun ada juga pada pasien dengan gagal ginjal kronis yang membutuhkan proses hemodialisis,” tutur Anindia. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Antara
|
Editor:Deasy Mayasari

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Timur, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.