Ekonomi

Banyak Pesanan, Pengusaha Bata di Bondowoso Tetap Produksi Meski Terkendala Hujan

Rabu, 06 Desember 2023 - 13:50
Banyak Pesanan, Pengusaha Bata di Bondowoso Tetap Produksi Meski Terkendala Hujan Salah seorang pengusaha bata di Bondowoso saat kerja kebut karena banyak permintaan (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)

TIMES JATIM, BONDOWOSO – Salah satu produsen batu bata di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, tampak tetap produksi meskipun harus berjibaku dsngan hujan. 

Salah satu produsen batu bata yang menggenjot produksinya berlokasi di Kecamatan Tamanan Bondowoso. 

Hilmi, salah seorang pengusaha batu bata tampak sibuk memantau anak buahnya yang lagi bekerja. Dia memastikan pengerjaan cepat dan kualitas bagus sehingga tidak mengecewakan konsumen. 

Menurutnya, kualitas batu bata tergantung proses penjemuran, pembakaran dan pencetakannya.

“Kalau tanah tidak terlalu berpengaruh. Sebab tanah yang dibuat bata beda dengan tanah untuk genteng,” kata dia. 

Terpenting juga dalam pembuatan bata kata dia, setiap sisinya harus rapi dan menyiku. Memang ada alat cetaknya tetapi kalau tidak ahli, bentuk yang dihasilkan tidak bagus. 

Kualitas bata juga dipengaruhi proses pembakarannya. Sebab jika kurang, maka bata tidak akan matang sempurna.

Proses pembakarannya pun beda dengan genteng. Genteng dibakar dengan menggunakan tungku besar. Sementara bata tidak perlu tungku. 

Pembakarannya bisa menggunakan sekam dan kayu. Tetapi pembakaran lebih cepat jika menggunakan kayu. 

“Sebenarnya tergantung permintaan. Kalau konsumen suka dibakar dengan sekam saya bakar dengan sekam. Tapi Rata-rata banyak yang minta pakai kayu,” jelas dia. 

Proses pematangan pastinya bertahap, dimulai dari bata yang paling bawah. Panas api kemudian menjalar ke atas hingga semua bata matang sempurna. “Biasanya ke atas itu ada 16 bata,” terang dia. 

Waktu pembakarannya pun tergantung penggunaan bahannya. Jika menggunakan kayu lebih cepat. Hanya butuh waktu sekitar 20 jam. 

Jika menggunakan kayu warna batasnya lebih menyala. Sementara dalam sekali bakar bisa menghasilkan 50.000 bata merah.

“Kalau kayu lebih cepat. Dengan jumlah 50 ribu empat hari sudah bisa jual. Kalau sekam 15 hari baru bisa jual,” terang dia. 

Adapun untuk nilai jual antara bata yang dibakar menggunakan kayu dengan sekam sama saja, dan modalnya pun relatif sama. 

Saat ini produksi terkendala karena musim hujan. Sebab proses penjemuran sebelum dibakar membutuhkan sinar matahari. 

Permintaan sendiri banyak dari pribadi dibandingkan  proyek. Apalagi ekonomi saat ini lagi bagus karena harga tembakau dan cabai mahal. Meski demikian juga ada permintaan dari proyek di Bali dan Situbondo. 

Adapun untuk harga Rp 425-450 ribu per seribu. Harga ini jika konsumen langsung datang ke tempat. Tetapi beda harga jika diantarkan sampai lokasi. “Kan ada biaya menaikkan dan menurunkan, tergantung jaraknya,” terang dia. (*)

Pewarta : Moh Bahri
Editor : Ferry Agusta Satrio
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.