TIMES JATIM, MALANG – Dono Salim, seorang penulis buku self-improvement, menyatakan bahwa media sosial merupakan platform utama bagi penulis dan kreator untuk membangun audiens mereka.
Menurutnya, banyak kreator yang ingin meraih kesuksesan, tetapi kurang memahami dasar-dasar menulis kreatif.
"Padahal, hal sederhana seperti membuat caption yang menarik dapat memberikan dampak besar dalam menarik perhatian pembaca," ucapnya saat membagikan pengalamannya dalam dunia kepenulisan dan strategi menulis kreatif di media sosial dalam workshop "Creative Writing on Social Media" di Gazebo Perpustakaan Universitas Brawijaya Malang, Kamis (27/2/2025).
Pengarang buku Gapapa Kok, Gak Semua Harus Terwujud Hari ini juga menceritakan bagaimana ia jatuh cinta pada dunia menulis setelah membaca buku Manusia Setengah Salmon karya Raditya Dika.
Ia mengakui bahwa menemukan ide dan meluangkan waktu untuk menulis bukanlah hal yang mudah, tetapi proses itu memberikan kepuasan tersendiri, terutama saat karyanya dapat memberikan dampak positif bagi pembaca.
Dono Salim juga menekankan bahwa menulis bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga tentang kreativitas dalam melihat suatu topik dari perspektif yang berbeda.
Contohnya, saat membahas tema "move on", penulis harus berani mencari sudut pandang yang unik agar karyanya menonjol.
"Kreatif itu berarti punya idealis, tapi berani keluar dari zona nyaman," ujar pria kelahiran Singaraja, Bali, pada tanggal 3 Maret 1995 ini.
Ia juga membagikan tips untuk mengatur waktu antara menulis dan pekerjaan, pentingnya membangun branding sebagai kreator, serta bagaimana AI bisa dimanfaatkan secara bijak dalam proses menulis.
"Kita diberi kapasitas otak yang luar biasa oleh Tuhan, jadi jangan disia-siakan," lanjutnya.
Saat ini, Dono Salim berencana untuk menulis buku baru dengan tema "Perpindahan". Baginya, menulis adalah proses pendewasaan dan cara untuk menyalurkan kegelisahan.
Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Budiluhur Jakarta ini juga menegaskan bahwa menulis tidak mengenal istilah bagus atau jelek, semua tergantung pada pengalaman dan keberanian untuk terus berkarya.
Atika Dewi Karunia, mahasiswa Universitas Brawijaya yang hadir di workshop ini, mengatakan bahwa acara tersebut sangat menarik meskipun jumlah pesertanya terbatas.
"Menurutku acaranya seru, karena kalau terbatas seperti ini rasanya jadi lebih private," ujarnya. (*)
Pewarta | : Vania Kusumawardani Hidayat (Magang MBKM) |
Editor | : Wahyu Nurdiyanto |